Saturday, March 2, 2019
Friday, March 1, 2019
RUANG LINGKUP JURNALISTIK
Pada umumya setiap organisasi memiliki ruang lingkup. Ruang lingkup jurnalistik meliputi manajemen redaksional , manajemen bisnis, manajemen percetakan. Delain itu apabila dilihat dari lokasi beredarnya suatu media ruang lingkup jurnalistik meliputi lokal, nasional, regional, dan internasional. Sedangkan apabila ditinjau dari bidang tugas atau illmu yang disampaikan ruang lingkup jurnalistik meliputi bidang sosial, hukum, kriminal, pendidikan, kesehatan, olahraga, hobi, eknomi, sosmas, dan masih banyak lagi yang belum disebutkan. Padiciti Hotel
Dalam manajemen redaksional terdiri dari orang-orang yang memiliki jejang dan tanggungjawab yang berbeda-beda dari yang rendah hingga yang tertinggi. Ada wartawan kota atau reporter kota, ada wartawan daerah atau koresponden. Sebelum menjadi koresponden karyawan jenjang atau tingkat yang harus dilalui yaitu calon koresponden , koresponden lepas, koresponden tetap, dan akhirnya koresponden karyawan. Sedangkan dikantor pusat ada asisten redaksi, redaktur, wakil redaktur pelaksana, sekretaris, litbang, redaktur pelaksana, wakil pemimpin redaksi, dan pemimpin redaksi. Di depatremen ini ada aspek sumber daya manusia dan system pengelolaan atau manajemen.
Thursday, February 28, 2019
PRINSIP-PRINSIP JURNALISTIK
Dalam jurnalistik untuk mencapai tujuan yang diharapkan
memerlukan prinsip-prinsip yang mendasari keseluruhan jurnalistik
prinsip-prinsip jurnalistik antara lain meliputi :
Kecepatan, Jurnalistik menganut prinsip kecepatan. Ekcepatan yang dimaksud adalah informasi dapat segera diterima oleh wartawan dan cepat disebarluaskan melalui media massa. Kecepatan wartawan untuk meliput suatu peristiwa atau memperoleh berita sangat dipengaruhi oleh kemampuan wartawan itu sendiri. Kemampuan yang dimiliki ileh wartawan diperoleh mealalui pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki serta pengalaman yang dimiliki oleh wartawan itu.
Ketepatan, Ketepatan suatu media massa dalam menyajikan berita akan menarik orang untuk membaca meria tersebut. Ketepatan dalam menyajikan berita ini dipengaruhi oleh kerja sama yang baik antara manajemen redaksional, manajemen bisnis, dan manajemen percetakan. Kelemahan salah satu dari ketiga bagian ini tentu akan mempengaruhi ketepatan media massa untuk menyajikan berita.
Kompetensi, Kompetensi diartikan sebagai kemampuan orang dalam menjalankan tugasnya. Kemampuan orang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan yang dimiliki dan juga pengalaman. Perlunya berbagai latar belakang disiplin ilmu baik sosial, ekonomi, politik, hukum dan lain-lain. Dengan berbagai masa disiplin ilmu akan membantu dalam menganalisa permasalahan yang sangat kompleks yang ada di masyarakat. Semakin mempunyai banyak pengalaman serta latar belakang pengetahuan yang dimiliki, menjadikan orang tersebut semakin kompeten tugasnya.
Penekanan, Penekanan dii sisni diartikan sebagai masalah pokok yang ingin disajikan dan diulas dalam media massa. Masing-masing media dapat memberikan penekanan masing-masing sesuai ciri khasnya. Apakah suatu media akan menekankan beritanya soal sosial, ekonomi atau yang lainnya. Penekanan informasi yang disampaikan itu akan membuat orang mencari khasnya sendiri-sendiri.
Loyalitas, Loyalitas ini sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya suatu badan usaha. Loyalitas dalam penerbitan jurnalistik meliputi baik mulai dari wartawan yang meliput berita sampai dengan orang –orang yang menyebarkan hasil cetakan penerbitan media massa. Loyalitas seseorang dalam menjalankan tugasnya ini bisa dipengaruhi faktor dari dalam orang itu sendiri maupun dari luar yang berupa manajemen yang diterapkan atau diberlakukan dalam perusahaan itu. Manajemen yang baik akan mendorong seseorang untuk terus loyal terhadap tugas-tugas yang diembannya.
Kelayakan, Kelayakan menjadi salah satu prinsip dalam jurnalistik. Kelayakan disini menyangkut informasi yang diterima redaksi. Apakah suatu berita atau informasi layak dimuat untuk diberitakan kepada massa tergantung penilaian bagian redaksi. Mengingat media massa merupakan media yang dinikmati oleh khalayak umum maka kelayakan suatu informasi atau berita untuk dimuat berdasarkan standar umum yang menyangkut orang banyak bukan kepentingan orang tertentu. Kelayakan suatu berita untuk dimuat juga bisa dipandang dari segi moral seperti tidak melukai pribadi orang atau kelompok tertentu, tidak menghasut, bahasanya yang santun dan sebagainya.
Prioritas, Prioritas juga menjadi prinsip penting dalam jurnalistik. Prioritas sangat diperlukan dalam mencapai tujuan. Seringkali suatu perusahaan penerbitan pers yang mempunyau alat cetak sendiri disamping untuk mencetak media masa kadang juga untuk usaha lainnya. Pada situasi tertentu sering terjadi kesamaan waktu untuk naik cetak. Dalam situasi seperti itu maka perlu prioritas dalam usaha percetakan yaitu mendahulukan mencetak media massa sebagai tujuan dari perusahaan dan itu juga menyangkut orang banyak supaya berita dapat dinikmati banyak orang dengan cepat dan tepat. Otten Coffee
Kecepatan, Jurnalistik menganut prinsip kecepatan. Ekcepatan yang dimaksud adalah informasi dapat segera diterima oleh wartawan dan cepat disebarluaskan melalui media massa. Kecepatan wartawan untuk meliput suatu peristiwa atau memperoleh berita sangat dipengaruhi oleh kemampuan wartawan itu sendiri. Kemampuan yang dimiliki ileh wartawan diperoleh mealalui pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki serta pengalaman yang dimiliki oleh wartawan itu.
Ketepatan, Ketepatan suatu media massa dalam menyajikan berita akan menarik orang untuk membaca meria tersebut. Ketepatan dalam menyajikan berita ini dipengaruhi oleh kerja sama yang baik antara manajemen redaksional, manajemen bisnis, dan manajemen percetakan. Kelemahan salah satu dari ketiga bagian ini tentu akan mempengaruhi ketepatan media massa untuk menyajikan berita.
Kompetensi, Kompetensi diartikan sebagai kemampuan orang dalam menjalankan tugasnya. Kemampuan orang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan yang dimiliki dan juga pengalaman. Perlunya berbagai latar belakang disiplin ilmu baik sosial, ekonomi, politik, hukum dan lain-lain. Dengan berbagai masa disiplin ilmu akan membantu dalam menganalisa permasalahan yang sangat kompleks yang ada di masyarakat. Semakin mempunyai banyak pengalaman serta latar belakang pengetahuan yang dimiliki, menjadikan orang tersebut semakin kompeten tugasnya.
Penekanan, Penekanan dii sisni diartikan sebagai masalah pokok yang ingin disajikan dan diulas dalam media massa. Masing-masing media dapat memberikan penekanan masing-masing sesuai ciri khasnya. Apakah suatu media akan menekankan beritanya soal sosial, ekonomi atau yang lainnya. Penekanan informasi yang disampaikan itu akan membuat orang mencari khasnya sendiri-sendiri.
Loyalitas, Loyalitas ini sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya suatu badan usaha. Loyalitas dalam penerbitan jurnalistik meliputi baik mulai dari wartawan yang meliput berita sampai dengan orang –orang yang menyebarkan hasil cetakan penerbitan media massa. Loyalitas seseorang dalam menjalankan tugasnya ini bisa dipengaruhi faktor dari dalam orang itu sendiri maupun dari luar yang berupa manajemen yang diterapkan atau diberlakukan dalam perusahaan itu. Manajemen yang baik akan mendorong seseorang untuk terus loyal terhadap tugas-tugas yang diembannya.
Kelayakan, Kelayakan menjadi salah satu prinsip dalam jurnalistik. Kelayakan disini menyangkut informasi yang diterima redaksi. Apakah suatu berita atau informasi layak dimuat untuk diberitakan kepada massa tergantung penilaian bagian redaksi. Mengingat media massa merupakan media yang dinikmati oleh khalayak umum maka kelayakan suatu informasi atau berita untuk dimuat berdasarkan standar umum yang menyangkut orang banyak bukan kepentingan orang tertentu. Kelayakan suatu berita untuk dimuat juga bisa dipandang dari segi moral seperti tidak melukai pribadi orang atau kelompok tertentu, tidak menghasut, bahasanya yang santun dan sebagainya.
Prioritas, Prioritas juga menjadi prinsip penting dalam jurnalistik. Prioritas sangat diperlukan dalam mencapai tujuan. Seringkali suatu perusahaan penerbitan pers yang mempunyau alat cetak sendiri disamping untuk mencetak media masa kadang juga untuk usaha lainnya. Pada situasi tertentu sering terjadi kesamaan waktu untuk naik cetak. Dalam situasi seperti itu maka perlu prioritas dalam usaha percetakan yaitu mendahulukan mencetak media massa sebagai tujuan dari perusahaan dan itu juga menyangkut orang banyak supaya berita dapat dinikmati banyak orang dengan cepat dan tepat. Otten Coffee
PENGERTIAN JURNALISTIK
Berdasarkan etimologi kata
jurnalistik berasal dari Bahasa Belanda Journalistiek
dan dari Bahasa Inggris journalistic atau jornalisme, yang berasal dari kata journal yang berarti catatan harian. Sedangkan dalam Bahasa Latin
diurnal yang berarti hari atau setiap hari. Dalam Bahasa Perancis du jour yang berarti hari. Sehingga jurnalistik
dalam Bahasa Perancis berasal dari kata journal yang artinya catatan harian.
Istilah jurnalistik
juga diartikan sebagai suatu kegiatan yang merupakan suatu proses mengumpulkan,
menyiapkan, menyebarkan berita melalui media massa. Kata jurnalisme sendiri
pada awalnya digunakan untuk laporan yang dimuat dalam media cetak. Namun dalam
perkembangannya dengan adanya penemuan radio dan televisi pada abad XX
penggunaan istilah jurnalistik mencakup media elektronik.
Menurut Mac Dougalla journalisme adalah kegiatan menghimpun
berita, mencari fakta, dan melaporkan peristiwa.
Menurut KBBI istilah
jurnalistik berarti menyangkut kewartawanan dan persuratkabaran.
Tuesday, February 26, 2019
MENGAPA KITA SULIT MENULIS?
Bukan Perkara Mudah!
Menulis bagi orang kebanyakan mungkin bukan perkara
mudah ini bukan soal yang bersangkutan tidak mau atau tidak mampu, mungkin
karena belum memulai atau belum terbiasa saja. Bagi orang tertentu, menulisa
menjadi sebuah keharusan, tradisi, pekerjaan, hobi, atau untuk keperluan
tertentu.
Menulis merupakan kegiatan menyampaikan ide,
gagasan, aspirasi, pendapat, tanggapan, argumentasi, atau informasi secara
tertulis kepada orang lain. Dari sebuah tulisan, orang akan memperoleh
informasi, inspirasi, pendapat, atau pengalaman dari si penulis. Menulis merupakan
kompetensi dasar yang bisa dimiliki oleh siswa pendidikan dasar. Kita mengenal
istilah “calistung”, kepanjangan dari membaca, menulis, dan berhitung. Pada
dasarnya, ketiga hal itu memang dapat saling terkait, meski orang boleh saja
emilih salah satu diantaranya untuk digeluti pada awalnya.
Siapa saja yang mau dan mampu boleh menulis. Tidak
ada larangan bagi siapa saja yang menuangkan ide dan gagasannya secara
tertulis. Baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Tulisan untuk diri
sendiri kita mengenal buku agenda harian sebgai media. Kiranya tidak perlu ada
aturn ini itu. Namun tulisan untuk orang lain apalagi yang dimuat di media
publik di media publik atau media buku, tentu memiliki aturan atau persyaratan
tertentu.
Selain kita bisa menulis melalui media pribagi
(agenda dan atau blog) kita bisa menulis di media internal, media massa,
menulis lomba tulisan atau media buku. Untuk media internal dimulai pers
sekolah, pers kampus, media korporat, sampai media komunitas. Untuk media masa
ada mmedia crtak, media elektonik, dan mullti media. Untuk media lomba tulis
maksudnya adalah lomba kepenulisan bidang fakta, opini atau fiksi. Sedangkan media buku, selain buku cetakan ada juga buku
elektronik.
Banyak pilihan waktu yang bisa kita pakai untuk kita menulis. Pertama, “sekarang”
adalah waktu yang tepat untuk menulis. Artinya, kalau sudah ingin menulis maka
segera menulis saja. Selanjutnya terserah kita boleh nanti, esok, minggu depan
atau kapan-kapan, atau sesuai dengan momentum pribadi atau news
peg bulanan sepanjang tahun. Untuk news
peg misalnya Hari Kartini, Hari Kemerdrkan RI, Hari Pahlawan, dan lainnya.
Pada dasarnya kita menulis untuk memberi sesuatu
kepada orang lain yang membaca. Sesuatu
itu tentang informasi, aspirasi, pendapat, aargumentasi, solusi, dan
sebagainya. Sebaiknya kita menulis juga dalam rangka memperoleh sesuatu atau
nilai tertentu.
Menulis memang ada teorinya, strategi, aturan main,
dan sebagainya. Bagi yang belum pernah menulis, bisa belajar kepada seseorang,
lembagaatau contoh karya orang lain. Selebihnya lakukan saja, mulai saja, dan
tetap semangat untuk berkarya. Soal tulisan kita baik atau tidak, dimuat atau
tidak dimuat, menang atau kalah, tidak masalah yang penting terus berproses, terus
berkarya, dan tetap semangat.
Dimulai Dari Diri Sendiri
Dalam era sekarang ini, siapa yang tidak tahu dan
mengena produk budaya bernama buku? Siapa saja yang sudah tersentuh lembaga
pendidikan, mulai dari pendidikan informal, formal dan nonformal pasti
berhubungan dengan buku.
Bicara buku tentu tentang penulis, pembaca,
peresensi, penerbit, percetakan, perpustakaan, toko buku, dan lain sebagainya.
Bebebrapa kegiatan diselenggarakan untuk menumbuhkan minat baca dan minat
menulis buku misalnya lomba mendongeng, lomba meresensi buku, menulis buku,
lomba putra-pitri buku, dan sebagainya.
Dinamika penulisan, penerbitan, meresensi, membaca
buku di Indonesia memang sudah berjalan. Perputaran uang dalam dunia perbukuan
kita tentu ga tidak sedikit. Namunsejauh mana buku benar-benar telah menjadi
bagian penting bagi setiap insang yang ingin maju.
Kalau ada kritik atau pendapat bahwa kita adalah
bangsa nol buku artinya kemauan dan kemampuan membaca buku kita rendah. Barangkali
tidak bisa terlalu disalahkan. Kalau kemauan membaca buku masih rendah,
bagaimana dengan kemauan dan kemampuan untuk menulis buku kita? Tentu lebih
memprikatinkan lagi.
Memang peresensian buku dan penulis buku selama ini
sudah ada. Mungkin juga jumlahnya meningkat. Tapi apa salahnya kalau secara
kuantitas dan kualitas ditingkatkan? Siapa yang boleh , dapat atau harus
meningkatkan kualitas dan secara kuantitas dan kualitas kemampuan menulis buku
seseorang? Hendaknya setiap orang bersedia menjadi guru bagi sesama, dan setiap
rumah menjadi sekolah bagi siapa saja seperti yang disampaikan oleh Bapak
Pendidikan kita Ki Hajar Dewantara.
Media yang pertama dan sederhana yang dapat dipakai
untuk belajar menulis adalah buku agenda harian karena penulis, pembaca, editor
tulisan adalah kita sendiri. Menulis dalam buku agenda harian memang cocok bagi
calon penulis atau penulis pemula. Namun jangan heran kalau penulis senior atau
siapa saja mau menulis dalam buku agenda harian. Buku ini bisa buku tulis biasa
atau kalau perlu yang lebih sederhana lagi. Karena yang terpenting kita dapat
menulis secara rutin konsisten, nyaman
dan aman. Menulis dalam buku agenda harian juga tidak harus banyak halaman. Boleh
hanya satu alenia atau bahkan satu kalimat saja. Banyak yang bisa kita peroleh
dari kebiasaan menulis di agenda harian misal
saja perasaan merasa lega, media belajar, media komunikasi, dan sebagainya.
Monday, February 25, 2019
Rahasia Sukses Membuat Berita Bagi Wartawan Pemula
Oleh
: Y.B. Margantoro
Berbicara
sukses adalah berbicara sebuah strategi, proses, dan hasil. Strategi adalah
cara untuk mencapai suatu tujuan. Boleh dikata, tidak ada orang yang mau gagall
atau tidak sukses, yang ada kebanyakan adalah gagal berencana atau tidak
melakukan perencanaan dengan baik.
Proses
adalah sebuah perjalann karya yang harus dijalani, suka atau tidak suka. Daya tahan
seseorang untuk memperoleh hasil terletak pada proses ini. Tidak semua orang
mau bersusah payah menjalani proses. Namun ada juga yang mau melakukan.
Padahal, hasil yang baik atau maksimal, tidak mungkin instan.
Hasil
adalah pencapaian yang diharapkan oleh orang atau organisasi dalam menjalani
sebuah perbuatan atau pekerjaan. Hasil yang baik pada dasarnya adalah buah dari
perencanaan yang baik.
Membuat
berita adalah tugas utama wartawan, terutama wartawan yang organik di media
publik. Berita adalah segala sesuatu yang menarik, dan berita yang paling
menarik adalah berita yang dibaca/dilihat/didengar sebanyak-banyaknya orang.
Selain
wartawan organik media, berita juga bisa dibuat oleh masyarakat umum khususnya
organisasi atau lembaga yang permanen dan tidak permanen.
Sedangkan
wartawan adalah orang yang bekerja disebuah lembaga pers, yang tugasnya
mencari, mengolah, dan menyajikan informasi kepada publik melalui media. Media
di sisni adalah media cetak, media elektronik dan multi media. Mungkin masih
ada lagi media komunitas, media korporat, dan sebagainya.
Wartawan
pemula?
Setiap
orang (wartawan) tentu saja pernah menjadi pemula. Dalam Kewartawanaan memang
ada istilah wartawan pemula, wartawan senior, dan sebagainya. Tapi yang penting
adalah apakah wartawan tetap mau belajar dan berbagi untuk sesama.
Strategi Pertama:
Wartawan
membaca koran harian, mendengarkan radio, melihat televisi atau informasi lain.
Tujuannya untuk memperoleh ide dasar bagi bahan penulisan beritanya. Ide atau
gagasan berita itu penting dimiliki.Selanjutnya, wartawan melakukan koordinasi
dengan direktur peliputan untuk penugasan di lapangan. Fokus dan hal-hal apa
yang harus dicari dan dikembangkan di lapangan.
Strategi Kedua:
Untuk
membuat berita wartawan harus mau terjun ke lapangan. Hampir semua isian media
(terutama media cetak) adalah hasil reportase wartawan. Reportase di sini
maksudnya adalah kerja lapangan atau kerja melaporkan dan bukan bentuk tulisan
fakta (ada berita langsung, berita kisah, dan berita laporan).
Di
lapangan kemampuan jurnalistik dan inderawi wartawan diuji. Sejauh mana dia
mampu mengakses fakta dan data yang memadai untuk dijadikan tulisan beritanya.
Selainmengamati kondisi lapangan, awartawan juga dituntut mampu melakukan
wawancara untuk konfirmasi berita atau meminta tanggapan atas sebuah peristiwa.
Strategi Ketiga :
Wartawan
melihat ada momentum atau news peg
(cantelan berita) apa yang dapat dimanfaatkan untuk membuat berita pada hari
itu. Misalnya, hari ini ada peristiwa teragenda apa yang dapat diliput. Atau ada
news peg apa, misalnya menyongsoong
hari-hari tertentu seperti Hari Buruh Internasional, Hari pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan
Nasional, dan sebagainya. Tentu saja, wartawan mencari dan mengolah informasi
itu tidak tepat pada waktunya. Beberapa hari sebelumnya, wartawan sudah
mempersiapkan fakta dan data, dan beritanya dimuat pada hari H momentum itu.
Strategi Keempat :
Banyak
peristiwa yang terjadi di luar kota, luar daerah, atau bahkan di luar negeri
yang dapat dilokalkan ditempat wartawan itu berada. Misalkan kasus flu babi
yang awalnya dari luar negeri, kerena menjadi kasus global dan sudah terjadi
korban di dalam negeri kita, maka kasus tu bisa dikembangkan di sini. Dilakukan
pengamatan di lapangan dan wawancara dengan naeasumber berkompeten di sini. Dalam
jurnalisme, pengembangan berita yang dianggap menarik dan penting diketahui
masyarakat banyak adalah follow up news.
Strategi Kelima :
Bila
ada berita yang memiliki kelayakan atau news
value yang tiggi dan secara
marketing diharapkan dapat mendongkrak eceran koran di lapangan, maka berita
itu bisa diblow up. Tulisan jenis ini
namanya blow up news. Dalam blow uo news, dimungkinkan disajikan
tlisan utama (vertikal), pendamping (horizontal), dan arahan atau petunjuk
(intruksional).
Dalam
metode ini pula, pada satu tampilan di halaman koran sama atau di halaman lain,
dapat disajikan tulisan berita langsung, berita kisah, dan berita laporan
secara serentak. Untuk menyajikan pola ini memang membutuhkan personel wartawan
yang cukup dan berkemampuan, koordinasi lapangan dan kantor redaksi yang baik
serta sarana prasarana pendukung yang memadai.
Strategi Keenam :
Dalam
jurnalisme dikenal istilah (tulisan) talking
news, yakni berita yang merupakan hasil wawancara khusus dengan narasumber
tentang topik tertentu. Jenis tulisan berita ini bisa berasal dari sebuah
pertemuan jumpa pers, media gathering, media visit atau wawancara khusus.
Strategi Ketujuh :
Ada
kegiatan atau peristiwa yang patut atau perlu diberitakan sebelumnya, namanya
adalah preview news. Artinya berita
ini menginformasikan akan dilaksanakan suat kegiatan tertentu oleh lembaga
tertentu. Tujuan pemberitaan jenis ini addalah agar publik megetahui kegiatan
tersebut dan diharapkan dapat menghadiri atau berpartisipasi.
Strategi Kedelapan :
Ada
kegiatan yang patut diberitakan sesudah peristiwa dimaksud terjadi. Jenis tulisan
ini adalah review news.
Strategi Kesembilan :
Organisasi
permanen atau tidak permanen pada dasarnya dapat mengirimkan berita ke media
masa dengan syarat dan ketentuan berlaku. Berita ini sifatnya layanan publik
dari media. Artinya tidak perlu membayar. Namun pemuatannya harus memenuhi
syarat kelayakan berita dan tersedia space
ini media bersangkutan.
Strategi Kesepuluh :
Berita
harus faktual atau obyektif, bermakna dann mempertimbangkan dampak sosial serta
dampak teknologinya. Berita memiliki nilai-nilai seperti konflik, kemajuan dan
bencana, konsekuensi, kemasyuran dan terkemuka, saat yang tepat dan kedekatan,
keganjilan, sentuhan manusiawi , seks, dan aneka lainnya. Sedangkan sumber
berita yaitu sumber primer (fakta /data
di lapangan dan wawancara), sember sekunder (riset pustaka), dan riset foto. Prinsip
dasar penulisan yaitu penugasan, pengumpuan, evaluasi, penulisan dan penyuntingan.
Strategi Kesebelas :
Usahakan
agar kalimat rata-rata pendek., pilih yang sederhana dari pada yang kompleks,
pilih kata-kata yang lazim, hindari kata-kata yang tidak perlu, beri kekuatan
pada kata kerja, tulislah sebagaimana anda berbicara, gunakan istilah yang bisa
digambarkan oleh pembaca, hubungkan dengan pengalaman membaca anda, gunakan
sepenuhnya variasi, menulislah untuk menyatakan dan bukan mempengaruhi.
Strategi Keduabelas :
Wartawan harus memiliki
sikap dan watak way of life, tujuan mulia, tidak arogan, akurat, keceapatan,
jujur terhadap kebenaran. Bekal kerja wartawan adalah memiliki naluri berita,
observasi, keingintahuan, mengenal berita, menangani berita, ungkapan yang
jelas, kepribadian yang luwes, pendekatan yang sesuai, kecepatan, kecerdikan,
teguh pada janji, daya ingat yang tajam, buku catatan, referensi, kamus, surat
kabar/majalah/internet/tv/radio, perbaikan demi kemajuan. Sedangkan syarat
kerja wartawan adalah tahu yang menarik, selalu ingin tahu, mampu observasi.
Subscribe to:
Posts (Atom)