Showing posts with label PERILAKU. Show all posts
Showing posts with label PERILAKU. Show all posts

Saturday, October 6, 2018

MAKALAH MODEL-MODEL PERUBAHAN PERILAKU MASYARAKAT : ACTION RESEARCH



BAB I
PENDAHULUAN
       I.            Latar Belakang

manusia merupakan mahluk sosial dengan berbagai hal yang harus dihadapin. Sehingga tidak heran jika sering muncul rasa atau hasrat ingin tahu tentang sesuatu hal. Dari hasrat ingin tahu itulah manusia selalu berusaha ingin mendapatkan pengetahuan yang benar mengenai berbagai hal yang dihadapi.
Pada  umumnya dalam rangka untuk memperoleh fakta atau kebenaran suatu pengetahuan tersebut manusia melakukan suatu penelitian secara nyata baik secara ilmiah maupun non ilmiah. Pada perguruan tinggi yang sering dilakukan adalah penelitian ilmiah dengan metode yang sesuai dengan bidang yang diajarkan. Salah satu contoh macam penelitian yaitu penelitian tindakan atau action research.

    II.            Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Apakah yang dimaksud dengan Penelitian Tindakan/Action Research?
2.      Bagaimana melakukan Action Research?


BAB II
PEMBAHASAN

       I.            Penelitian Tindakan/Action Research

Beberapa para ahli seperti John Dewey dan  Kurt Lewin menjelaskan konsep dasar penelitian tindakan. Dewey menyatakan bahwa dalam memecahkan permasalahan yang ada dalam suatu masyarakat diperlukan partisipasi dan kerjasama dalam masyarakat tersebut. Sedangkan Lewin dalam teori praktisnya ia mengemukakan 2 model penelitian masyarakat salah satunya yaitu penelitian tindakan. Menurutnya penelitian tindakan berkaitan dengan pemecahan masalah dan menghasilkan suatu yang lebih baik. Baik menurut Dewey maupun Lewin  penelitian tindakan memberikan sumbangan yang signifikan dalam mengembangkan suatu fungsi yang baik dalam masyarakat demokratis.
Metode penelitian tindakan merupakan suatu penelitian yang dikembangkan bersama-sama antara peneliti dengan decision maker tentang variabel-variabel yang dapat dimanipulasikan dan segera dapat digunakan untuk menentukan kebijakan dan pembangunan. Peneliti dan decision maker bersama menentukan masalah, membuat desain serta melaksanakan program-program tersebut. Penelitian tindakan menjadi suatu alternatif untuk membantu merefleksikan, mengumpulkan data dan memberi solusi untuk menyelesaikan masalah.
penelitian tindakan memiliki dua tujuan pokok, yaitu meningkatkan (improve) dan melibatkan (involve). Improve maksudnya, meningkatkan bidang praktik, meningkatkan pemahaman praktik yang dilakukan oleh praktisi, dan meningkatkan situasi tempat praktik dilaksanakan. Sedangkan involve berarti, melibatkan pihak-pihak yang terkait.
Penelitian tindakan mengadakan ranga kerja penelitian empiris yang didasarkan pada observasi objektif pada masa sekarang untuk memecahkan masalah baru, serta praktis dan aktual. Sehingga penelitian ini lebih bersifat fleksibel.
Faktor-faktor dalam penelitian tindakan sebagai berikut:
1.      Practical, pemahaman dari data yang penting untuk perbaikan.
2.      Participative, dalam  mengumpulkan data yang menjadi subyek adalah semua yang berhubungan dengan masalah yang nyata.
3.      Empowering, semua partisipan dapat mempengaruhi dan menyumbangkan sesuatu untuk pengumpulan data.
4.      Interpretative, realita sosial secara kolaborasi ditentukan oleh partisipasi-partisipasi selama pengumpulan data.
5.      Tentative, sesudah mengumpulkan data tidal secara langsung memberikan hasil tetapi memberikan solusi sementara kearah perbaikan.
6.      Critical, partisipan disini diharapkan aktif dan dapat memberikan kritik pada perubahan yang nanti akan dilakukan.

    II.            Tahapan Melakukan Action Research

Secara garis besar, langkah-langkah dalam penelitian tindakan ini meliputi perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (monitoring), dan refleksi/ penilaian (reflecting). Keempat langkah tersebut dapat dilihat dari bagan berikut ini:





        










Perencanaan

 pelaksanaan














 penilaian



 pengamatan





 







Dari gambar tersebut, dapat kita ketahui bahwa dari langkah-langkah tersebut dapat menjadi satu siklus. Yang artinya, siklus dari keempat langkah tersebut dapat berulang. Siklus dapat berhenti bila peneliti sudah merasa puas akan hasil yang dicapainya.
Dalam Nazir (1988: 97-98) dikemukakan langkah-langkah pokok dalam penelitian tindakan sebagai berikut:
1.      Rumusan masalah dan tujuan penelitian bersama-sama antara peneliti dan pekerja praktis dan decision maker
2.      Himpun data yang tersedia tentang hal-hal yang berhubungan dengan masalah ataupun metode-metode dengan melakukan studi kepustakaan.
3.      Rumuskan hipotesa serta strategi pendekatan dalam memecahkan masalah
4.      Buat desain penelitian bersama-sama antara peneliti dengan pelaksana program serta rumuskan prosedur, alat dan kondisi pada mana penelitian tersebut akan dilaksanakan
5.      Tentukan kriteria evaluasi, teknik pengukuran, serta teknik-teknik analisa yang digunakan
6.      Kumpulkan data, analisa, beri interpretasi serta generalisasi dan saran-saran
7.      Laporkan penelitian dengan penulisan ilmiah.
Ada tujuh langkah dalam menyelesaikan masalah pada penelitian tindakan, antara lain:
1.      Specity the problem, mengidentifikasi masalahdengan melihat situasi nyata dan tujuan awal agar nanti dapat ditemukan tujuan yang akan dicapai.
2.      Mengukur situasi dengan force-field analysis, menurut Lewin untuk menggambarkan situasi sosial baik dalam keadaan pasif maupun tidak mempunyai kekuatan yang sama yaitu situasi mempunyai kekuatan yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan dan mengendalikan tujuan. Situasi adalah keseimbangan dinamis yang membantu dan kekuatan pengendali, situasi dapat diubah dengan diberikan kekuatan yang mendukung atau kekuatan pengendali.
3.      Memberikan banyak solusi, memberikan ide atau solusi sebanyak mungkin untuk memecahkan masalah.
4.      Rencana tindakan, apa yang akan dilakukan sesuai dengan situasidan permasalahanyang ada dengan membuat rencana untuk perubahan.
5.      Antisipasi, perlu dipikirkan kendala yang tiba-tiba muncul di lapangan pada waktu rencana tindakan dilakukan.
6.      Tindakan, menerapkan rencana tindakan
7.      Evaluasi, mengevaluasi keseluruhan meliputi tindakan yang dihadapi pada waktu tindakan dilakukan, kekurangan dan kelebihan dari proses yang sudah dilakukan agar permasalahan yang ada dapat dipecahkan dan kemungkinan akan ditemukan tujuan baru.
Fase dalam penelian tindakan, antara lain:
1.      Initiating
Inisiasi adalah penelitian bisa memprediksikan kemukinan yang akan terjadi dan prioritas tindakan yang akan dilakukan. menurut Richard Sagor bahwa tahap ini untuk melakukan tindakan. Dalam proaktif penelitian tindakan, tindakan dilakukan pengumpulan data maka penelitian untuk tindakan melibatkan refleksi pengalaman masa lalu, membaca literature dan mengumpulkan pendapat dari orang-orang yang mempunyai kompeten. Didalam penelitian tindakan pengumpulan data dilakukaan sebelum tindakan maka dalam pengumpulan data diperlikaan questioner, interview, observasi dan dokumen.

2.      Detection
Mendeteksi adalah penelitian dapat memantau/memonitor dan menyesuaikan tindakan dari waktu ke waktu. Tahap ini yaitu evaluasi program, evaluasi perkembanganatau proses analisa.

3.      Judgment
Mempertimbangkan adalah peneliti mengumpulkan data perlu waktu yang lama dan sulit (bulan ke bulan, semester ke semester, tahun ketahun). Mempertimbangak perlu refleksi masalalu, pemeriksaan sistematis kedalam apa yang telah atau belum dicapai setelah tindakan dilakukan dan pada waktu yang tepat. Pada waktu  mengumpulkan data peneliti  mencari jasa dan sesuatu yang berharga, untuk mencapai jasa suatu hasil hatus mempunyai nilai yang hakiki atau nilai intrinsik. Untuk mencapai sesuatu yang berharga, sesuatu hasil harus mempunyai nilai ekstrinsik.
Cara-cara untuk mengumpulkan data, antara lain:
a.       Questioner
b.      Interview
c.       Observasi
d.      Dokumen
e.       Focused Group Discussed


BAB III
PENUTUP
       I.            Kesimpulan

Metode penelitian tindakan merupakan suatu penelitian yang dikembangkan bersama-sama antara peneliti dengan decision maker tentang variabel-variabel yang dapat dimanipulasikan dan segera dapat digunakan untuk menentukan kebijakan dan pembangunan. Peneliti dan decision maker bersama menentukan masalah, membuat desain serta melaksanakan program-program tersebut.  
penelitian tindakan memiliki dua tujuan pokok, yaitu meningkatkan (improve) dan melibatkan (involve). Improve maksudnya, meningkatkan bidang praktik, meningkatkan pemahaman praktik yang dilakukan oleh praktisi, dan meningkatkan situasi tempat praktik dilaksanakan. Sedangkan involve berarti, melibatkan pihak-pihak yang terkait.
Secara garis besar, langkah-langkah dalam penelitian tindakan ini meliputi perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (monitoring), dan refleksi/ penilaian (reflecting).
Dalam Nazir (1988: 97-98) dikemukakan langkah-langkah pokok dalam penelitian tindakan sebagai berikut:
1. Rumusan masalah dan tujuan penelitian bersama-sama antara peneliti dan pekerja praktis dan decision maker.
2.   Himpun data yang tersedia tentang hal-hal yang berhubungan dengan masalah ataupun metode-metode dengan melakukan studi kepustakaan.
3.    Rumuskan hipotesa serta strategi pendekatan dalam memecahkan masalah.
4.   Buat desain penelitian bersama-sama antara peneliti dengan pelaksana program serta rumuskan prosedur, alat dan kondisi pada mana penelitian tersebut akan dilaksanakan.
5.      Tentukan kriteria evaluasi, teknik pengukuran, serta teknik-teknik analisa yang digunakan.
6. Kumpulkan data, analisa, beri interpretasi serta generalisasi dan saran-saran.
7. Laporkan penelitian dengan penulisan ilmiah.


DAFTAR PUSTAKA

Suryabrata,Sumadi. 1991. Metodologi Penelitian. Jakarta Utara: Rajawali.
Nazir,Mohammad. 1988. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia.
Wedajati,Ratna Sosetya. 2004. Modul Model-Model Perubahan Perilaku Masyarakat.



Wednesday, March 9, 2016

MAKALAH KUMPUL KEBO SEBAGAI SALAH SATU PERILAKU SOSIAL BERDASARKAN TEORI PERTUKARAN SOSIAL DALAM PERSPEKTIF PERILAKU



KUMPUL KEBO SEBAGAI SALAH SATU PERILAKU SOSIAL
BERDASARKAN TEORI PERTUKARAN SOSIAL DALAM PERSPEKTIF PERILAKU


BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
     
Berdasarkan Abraham Maslow bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi seperti : kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan, dan kebutuhan akan aktualisasi diri. kepuasan akan dicapai secara bertahap. seseorang akan memuaskan kebutuhannya pada tingkat paling dasar dan kemudian akan memuaskan kebutuhan pada tingkat berikutnya. Namun jika kebutuhan tingkat yang lebih tinggi tetapi kebutuhan tingkat yang lebih dasar belum terpenuhi maka seseorang dapat kembali  pada kebutuhan sebelumnya.
Manusia adalah  makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri dalam pemenuhan kebutuhannya. Manusia memerlukan orang lain untuk dapat memenuhi berbagai macam kebutuhannya itu agar mencapai suatu kepuasan yang di inginkan. Sehingga dibutuhkan suatu upaya atau usaha tertentu dari manusia itu sendiri melalui suatu tindakan atau perilaku sosialnya.
Upaya  atau usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan ini justru terkadang menjadi suatu problem dalam masyarakat. Problem tersebut dapat kita lihat dari adanya banyak tindakan atau perilaku sosial seseorang yang menyimpang. Salah satunya yaitu kumpul kebo yang semakin marak terjadi dalam masyarakat sebagai upaya pemuasan kebutuhan fisiologis seseorang.
Di Indonesi kumpul kebo menjadi hal yang tabu bahkan norma yang ada seolah-olah tidak memberi ruang untuk kumpul kebo. Sehingga berita seseorang kumpul kebo akan menjadi suatu pembicaraan yang menghebohkan yang membuat gaduh dalam lingkungan. Namun norma yang menabukan kumpul kebo dan sanksi sosial yang mengancam pelakunya ternyata tidak cukup kuat untuk mencegah atau menghentikannya.

B.      RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dibuat beberapa rumusan masalah, yaitu:
1.       Apa yang dimaksud dengan kumpul kebo?
2.       Bagaimana analisis terhadap  kumpul kebo sebagai salah satu perilaku sosial berdasarkan teori pertukaran sosial dalam perspektif perilaku?
3.       Bagaimana cara kontrol sosial terhadap perilaku kumpul kebo?


BAB II
PEMBAHASAN
A.      DEFINISI KUMPUL KEBO
Kumpul kebo berasal dari kata Kumpul dan kebo. Berdasarkan KBBI kumpul artinya bersama-sama menjadi satu kesatuan atau kelompok (tidak terpisah-pisah); berhimpun; berkerumun. Kata kebo dalam bahasa Indonesia kerbau. Sehingga kata kumpul kebo sebenarnya merupakan kata kiasan yang dapat diartikan sebagai perkumpulan kerbau dimana kerbau diumpamakan sebagai perempuan dan laki-laki. Namun secara umum kumpul kebo diartikan sebagai hidup bersama layaknya hubungan antara suami istri di luar pernikahan.
B.   ANALISIS TERHADAP KUMPUL KEBO SEBAGAI SALAH SATU PERILAKU SOSIAL BERDASARKAN TEORI PERTUKARAN SOSIAL DALAM PERSPEKTIF PERILAKU
       Kumpul kebo merupakan salah satu contoh perilaku sosial dalam masyarakat yang sering menjadi suatu problema. Hal ini disebabkan karena adanya anggapan tabu tentang kumpul kebo dalam masyarakat. kumpul kebo dianggap tidak sesuai dengan norma yang berlaku. Pada dasarnya laki-laki dan perempuan dapat tinggal atau hidup bersama selayaknya suami istri jika telah menikah dengan sah.
Kumpul kebo tidak hanya terjadi dikalangan anak muda saja melainkan hingga di kalangan oang tua. Banyak alasan yang melatarbelakangi seseorang melakukan kumpul kebo, seperti :
a.       Adanya ketidaksiapan mental untuk menikah tetapi Individu ingin membentuk hubungan yang romantis dengan pasangannya. Sehingga dapat menyalurkan kebutuhan seksualnya tanpa harus terkait dalam pernikahan yang sah.
b.      Ketidaksiapan secara ekonomis. Dari segi usia, mungkin seseorang telah memenuhi sayarat namun dari segi ekonomis mungkin merasa belum siap untuk menikah. Mereka yang tergolong belum mandiri secara ekonomi misalnya mereka yang masih duduk di bangku perguruan tinggi, lulus universitas/ akademi tetapi masih menganngur, atau sudah bekerja tetapi hasilnya belum mencukupi jika dipergunakan untuk hidup berdua dalam pernikahan. Sementara hasrat seksual dari dalam dirinya sudah seharusnya memperoleh penyaluran secara teratur dan sah dari segi hukum perkawinan.
c.       Pengalaman traumatis sebelum dan sesudah pernikahan. Bagi seorang individu yang telah menjalin hubungan dengan lawan jenis tetapi putus akhirnya mengalami patah hati dengan perasaan sangat kecewa (frustasi), sedih, putus asa, dan dendam untuk itu individu berfikiran untuk tidak menikah secara resmi terlebih dahulu.
Kumpul kebo dalam perspektif perilaku termasuk dalam perilaku sosial. Hal ini karena proses terjadinya kumpul kebo merupakan hasil dari tanggapan dan rangsangan yang terjadi antar individu. Dimana bahwa dalam perspektif perilaku menurut John B Watson bahwa perilaku tidak hanya bersifat instink yang dikatakan bersifat mistik mentalistik dan subyektif tetapi adanya tanggapan dan rangsangan berasosiasi dengan yang lain dan menghasilkan bentuk fungsional.
Berdasarkan teori pertukaran sosial dalam perspektif perilaku kumpul kebo yang merupakan salah satu contoh perilaku sosial yang dapat mempengaruhi lingkungan sekitarnya (masyarakat sekitar).  Dimana adanya kumpul kebo dapat menimbulkan suatu kegaduhan dalam masyarakat. Hal ini dikarenakan kumpul kebo bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan kata lain bahwa kumpul kebo merupakan perilaku sosial yang menyimpang. Sehingga tidak heran jika pelaku akan mendapatkan sanksi yang berlaku baik secara materil ataupun moril. Sanksi-sanksi yang diberikan bermaksud untuk membuat jera para pelaku namun sering kali sanksi tersebut belum mampu membuat jera pelaku.
C.      KONTROL SOSIAL TERHADAP PERILAKU KUMPUL KEBO DALAM MASYARAKAT
          Sebagai perilaku yang menyimpang maka perilaku kumpul kebo  perlu  dikendalikan atau di kontrol agar tidak menimbulkan kegaduhan dalam masyarakat. Berbagai cara untuk mengendalaikan perilaku kumpul kebo yaitu diantaranya:
1.       Pengadaan dan pembaharuan norma dalam masyarakat
Pengadaan dan pembaharuan norma dalam masyarakat dapat dijadikan sebagai salah satu bentuk kontrol sosial yang dapat dilakukan sebagai upaya mencegah terjadinya perilaku kumpul kebo dalam masyarakat. Beberapa norma yang dapat diberlakukan sebagai kontrol sosial dalam kasus ini, seperti:
·         Diberlakukannya jam kunjung tamu.
·         Diberlakukannya  tamu menginap 1 x 24 jam  harap lapor
2.       Sanksi yang tegas bagi para pelaku
·         Pelaku yang terbukti melakukan kumpul kebo dihukum sesuai dengan hukum adat yang berlaku.

3.       Teguran dan peringatan
Teguran dan peringatan bagi pelaku diberikan saat pelaku melakukan kumpul kebo yang diberikan secara lisan atau tersurat. Hal tersebut dilakukan agar pelaku tidak mengulangi perilaku kumpul kebo.

Kesimpulan
Perilaku kumpul kebo merupakan perilaku menyimpang dan sangat merugikan masyarakat. Sangat jelas bahwa kumpul kebo tidak lebih baik daripada menikah. Teori pertukaran sosial dalam perspektif perilaku kumpul kebo merupakan salah satu contoh perilaku sosial yang dapat mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu perilaku kumpul kebo harus dicegah sedini mungkin agar menghasilkan generasi yang bersih dari hal tersebut.
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi perilaku kumpul kebo yang sudah terjadi yaitu, sanksi yang diberikan oleh budaya adat kepada pelaku kumpul kebo serta peringatan dan teguran bagi si pelaku.