Showing posts with label SOSIAL. Show all posts
Showing posts with label SOSIAL. Show all posts

Tuesday, October 16, 2018

KONSEP PEMBANGUNAN SOSIAL



Konsep “sosial” dalam konteks pembangunan sosial bervariasi berkaitan dengan ciri-ciri yang ada di suatu negara dan di dalam masyarakatnya. Diana Conyers menyimpulkan beberapa konsep “sosial”, dapat menyangkut:
  1. pemberian fasilitas-fasilitas sosial, seperti taman nasional, tempat permainan anak-anak,dll;
  2.  lawan dari “individu” dalam arti benda-benda sosial dan keuntungan sosial;
  3. perhatian dan keterlibatan masyarakat;
  4. lawan dari “ekonomis” yakni pembangunan yang mengutamakan faktor-faktor non ekonomis
  5. sesuatu di mana rakyat memiliki beberapa hak intrinsik sebagai anggota masyarakat, yakni hak sosial atau yang secara sosial berhak seperti persamaan kesempatan, kebebasan berbicara, keadilan, partisipasi, pangan yang memadai, dll.
Sebagaimana konsep “sosial” yang memiliki beberapa variasi, makna pembangunan sosial pun juga memiliki variasi yang bermacam-macam. Ada 3 macam kategori pembangunan sosial yang akan dibahas di sini, yaitu:
1.      Pembangunan sosial sebagai pengadaan pelayanan masyarakat.
Interpretasi pembangunan sosial sebagai usaha terencana untuk memberikan fasilitas sosial  adalah definisi yang paling sederhana dan diterima secara luas. Interpretasi ini merupakan derivat dari model pembangunan yang berorientasi pada kebutuhan dasar/kesejahteraan.
2.      Pembangunan sosial sebagai upaya terencana untuk mencapai tujuan sosial yang kompleks dan bervariasi.
Pembangunan sosial mencakup proses pencapaian tujuan sosial yang lebih kompleks dan kadang-kadang bervariasi seperti, persamaan, keadilan sosial, promosi budaya, ketentraman batin,dll. Kendati tujuan sosial ini sulit diukur tetapi banyak pula negara-negara sedang berkembang yang menggunakannya.
3.      Pembangunan sosial sebagai upaya yang terencana untuk meningkatkan  kemampuan manusia untuk berbuat.
Kategori ini merupakan derivat dari model pembangunan yang berpusat pada manusia. Pembanguann sosial meliputi suatu uasaha terncana untuk meningkatkan kemampuan dan potensi manusia dan untuk mengerahkan minat mereka ikut serta dalam proses pembuatan keputusan tentang berbagai hal yang memilki dampak bagi mereka dan bagi penerapan keputusan tersebut. Dengan demikian pembangunan sosial mencoba mempromosikan kekuatan manusia, bukan mengabadikan ketergantungan yang menciptakan hubungan antara birokrat dan masyarakat.
Dalam pembangunan sosial dalam kategori inilah konsep partisipasi menjadi sangat penting. Partisipasi menjadi suatu komponen yang harus ada dalam konsep pembangunan sosial ini. Melalui proses partisipasi itulah kemampuan manusia dan perjuangan mereka untuk membangkitkan dan menopang pertumbuhan kolektif menjadi kuat.
Dengan bervariasinya makna kategori pembangunan sosial yang dipakai dalam berbagai negara tersebut maka untuk pencapaian tujuan pembanguna sosial juga memiliki alternatif pendekatan yang dapat dipilih oleh negara manapun. Alternatif pendekatan ini bergerak dari pendekatan pembangunan sosial yang “top down” sampai pada pendekatan sosial yang berdasar pengelolaan sumber yang bertumpu pada masyarakat/komunitas.
Untuk lebih jelasnya lagi dapat dilihat dalam bagan sebagai berikut.

Perbedaan Ciri-ciri Pendekatan Pembangunan Sosial Atas-Bawah, Cetak Biru dan Pengelolaan Sumber yang Bertumpu pada Masyarakat

Ciri-ciri

Pendekatan

Atas-bawah, cetak biru

Pengelolaan  sumber yang bertumpu pada masyarakat

Ciri khas




Keterandalan






Keuntungan

Kerugian




Prioritas

Segala sumber yang disediakan birokrasi pusat.



Manakala ada sumber pusat yang melimpah, dan Tidak ada sumber daerah yang menganggur.



Cepat dan mudah

Menciptakan ketergantungan,
Program pembangunan sosial berakhir ketika subsidi dihentikan.
Infrastruktur system diberikan dari pusat,
Sumber-sumber potensial dieksplorasi birokrasi pusat.

Sumber-sumber pusat adalah pemacu untuk mengerahkan sumber lokal yang diarahkan sendiri.

Sumber pusat yang tidak memadai,
Sumber daerah tidak dimanfaatkan sepenuhnya,
Pembangunan kemampuan lokal untuk ketahanan dan kepercayaan diri.
Pemanfaatan daerah sepenuhnya.
Sulit dimulai,
Lamban dan sulit mengelolanya.


Pengikisan Kemiskinan

Sumber-sumber dikerahkan masyarakat lokal.

Tuesday, May 22, 2018

PERENCANAAN SOSIAL

Kumpulkan beberapa pengertian mengenai
a. Perencanaan
b. Sosial
c. Masalah sosial
d. Perencanaan Sosial

JAWAB :
a.Menurut Dr.H.Abdurachim, 
perencanaan adalah suatu pengaturan urutan operasional yang dibuat sabagai bimbingan kearah tercapainya suatu tujuan atau terciptanya berbagai tujuan secara berimbang.
Menurut  Conyers dan Hills
perencanaan adah suatu proses yang bersinambung yang mencakup keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan sebagai alternatif penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan-tujuan trertentu pada masa yang akan datang.

b. Dalam kamus sosiologi
sosial atau social merupakan sesuatu yang berkenaan dengan perilaku interpersonal, atau yang berkaitan dengan proses sosial.
Menurut B. Simanjuntak dalam bukunya perubahan dan perencanaan sosial, 
sosial adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan- kepentingan masyarakat.
Menurut Enda M.C, 
sosial merupakan cara tentang bagaimana  para individu saling berhubungan.

c. Menurut Soerjono Soekanto
masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian yang terjadi antara unsur-unsusr kebudayaan atau masyarakat, dimana ketidak sesuaian tersebut dapat membahayakan kehidupan kelompok sosial masyarakat.
Menurut Soetomo
masalah sosial adalah suatu kondisi yang tidak diinginkan terjadi oleh sebagian besar dari warga masyarakat.
Menurut Edi suharto
masalah  sosial adalah sebuah kondisi yang dipandang oleh sejumlah orang dalam masyarakat sebagai sesuatu yang tidak diharapkan.

d. Menurut B. Simanjuntak dalam bukunya perubahan dan perencanaan sosial,
perencanaan sosial merupakan usaha yang sadar dalam menentukan urutan operasional untuk mencapai perbaikan sosial yang diinginkan.
Menurut Prof.Dr. J.W. Schoorl dalam buku perubahan dan perencanaan sosial,
perencanaan sosial adalah suatu perencanaan yang meliputi penetapan rencana-rencana untuk kegiatan yang akan datang yang berhubungan dengan lembaga-lembaga dan sumber-sumber sosial.

2. Sintesakan pengertian tersebut dengan menggunakan bahasa anda sendiri secara sederhana dan operasional!
JAWAB :
a. Perencanaan adalah  proses menentukan dan menetapkan suatu tindakan secara sadar dan sistematis untuk mencapai tujuan tertentu.
b. Sosial adalah hubungan manusia secara kolektif dalam rangka pemenuhan kebutuhannya.
c. Masalah sosial adalah suatu kondisi yang dianggap oleh sebagian besar masyarakat tidak sesuai dengan harapan atau pandangannya.
d. Perencanaan sosial adalah proses menentukan dan menetapkan suatu tindakan secara sadar dan sistematis untuk mencapai tujuan tertentu dalam hubungan  manusia secara kolektif / masyarakat.

3. Buatlah review tentang:
a. Sejarah munculnya Perencanaan Sosial
b. Perubahan Pendekatan dalam
Perencanaan Pembangunan
c. Lingkup Perencanaan Sosial
d. Perencanaan Pelayanan Sosial
e. Perencanaan Sosial dalam Perencanaan Pembangunan
f. Perencanaan Partisipartif
JAWAB :
a. Perencanaan sosial pada awalnya digunakan oleh negara maju  seperti di Eropa Barat dan Amerika Utara.  Orang- orang barat beranggapan bahwa adanya keterkaitan antara perencanaan sosial  dalam  perencanaan kesejahteraan sosial.  Di lain sisi negara dunia ketiga memandang bahwa perencanaan sosial sebagai gambaran negara barat. Dimana perencanaan sosial di dunia barat menggambarkan peran serta negara dalam pengadaan pelayanan masyarakat. Selain itu peran serta negara maju  secara kontinyu dalam menghasilkan perubahan-perubahan dengan perhitungannya yang matang  dalam lingkungan sosial ekonomi negara dunia ketiga. Timbulnya perencanaan sosial bukan hanya semata-mata sebagai suatu tanda akan meningkatnya kebutuhan pelayanan kesejahteraan dalam suatu negara, tetapi karena adanya pergeseran ruang lingkup yang lebih luas dari perencanaan pembangunan dengan lebih memberi tekanan pada perubahan sosial dan pencapaian tujuan sosial itu sendiri.

b. Menurut David C. Korten  terdapat dua pendekatan dalam  perencanaan pembangunan, yaitu : pendekatan cetak biru dan pendekatan  proses belajar. Pendekatan cetak biru/ blue print approach  yaitu  suatu pendekatan pembanguan yang beranggapan bahwa sekali metode berhasil di suatu daerah, maka diasumsikan bahwa metode tersebut bisa diterapkan di daerah laintanpa mempertimbangkan aspek sosial, budaya,kondisi alamnya, dan lainnya. Pada pendekatan ini program  dalam perencanaan pembangunan  akan lebih cenderung lebih cenderung terlihat top-down  dari pemerintah. Dominasi pemeritah terhadap masyarakat hanya akan melahirkan sikap apatis masyarakat terhadap pemerintah dan produk perencanaan pembangunan. Sehingga tak heran jika pembangunan akan mengalami suatu kegagalan karena kehilangan dukungan masyarakat. Sehingga sulit mewujudkan pembangunan dengan  pendekatan blue print approach. Oleh karenanya perlu adanya perubahan pendekatan perencanaan dalam pembangunan yaitu dengan pendekatan proses belajar. Pada pendekatan proses belajar akan lebih  cendrung buttom-up sebab di dalamnya mengutamakan dan mempetimbangkan aspek sosial, budaya, alam, dan aspek lainnya dalam  lingkungan masyarakat itu sendiri sehingga akan muncul rasa untuk memiliki. Dengan kata lain bahwa pendekatan proses belajar ini mengutamakan adanya  suatu keserasian antara kebutuhan, kegiatan/ program, dan kemampuan suatu wilayah  dalam merencanakan suatu pembangunan.

c. Ruang lingkup perencanaan sosial / social planning yaitu mencakup segi kehidupan masyarakat baik dari segi kebutuhan sosial, modal sosial, atau pun pelayanan sosial. Dari segi kebutuhan sosial perencanaan sosial dapat mengenai  hubungan dalam masyarakat, nilai yang ada, dan sebagainya. Dari segi modal sosial perencanaan sosial dapat mengenai organisasi sosial, tokoh masyarakat, kelembagaan sosial, dll. Sedangkan pada pelayanan sosial perencanaan sosial dapat mengenai pendidikan, kesehatan, dll.

d. Pelayanan sosial merupakan aksi atau tindakan untuk mengatasi masalah sosial. Atau dengan kata lain pelayanan sosial merupakan seperangkat program yang ditujukan untuk membantu individu/ kelompok yang mengalami hambatan dalam pemenuhan kebutuhan. Kategori pelayanan sosial biasanya berdasarkan sasaran pelayanannya, tempat, atau sektor. Pelayanan sosial merupakan salah satu kebijakan sosial yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. Keefektifan dan keefisienan suatu pelayanan sosial bergantung oleh perencanaan pelayanan sosial yang di buat oleh organisasi pelayanan sosial. Dalam perencanaan pelayanan sosial, perencanaan strategis menjadi suatu komponen yang melibatkan stakeholder dan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki organisasi pelayanan sosial tersebut. Pada kenyataannya organisasi pelayanan sosial masih memiliki kekurangan sumber dayanya sehingga perencanaan menjadi bagian penting di dalamnya. Tahapan perencanan dalam penyediaan pelayanan sosial menurut Suharto, meliputi :
a. Identifikasi masalah
b. Penentuan tujuan
c. Penyusunan dan pengembangan rencana program
d. Pelaksanaan program
e. Evaluasi program

e. Di dalam perencanaan pembangunan faktor sosial tidak boleh ditinggalkan. Dalam aspek sosial ini ada 4 macam  yang harus dipertimbangkan yaitu :
1) Faktor manusia
Manusia merupakan faktor penting dalam perencanaan pembangunan. Sebab akan berkaitan dengan cara mereka merasakan kebutuhan dan mewujudkannya dalam program pembangunan.
2) Pemenuhan kebutuhan sosial
Di mana perencanaan sosial dalam pembangunan sosial diharapkan benar-benar merupakan sebuah kebutuhan sosial.
3) Keadilan sosial
Bahwa perencanaan sosial dalam pembangunan sosial yang dibuat diharapkan tidak menimbulkan suatu ketidakadilan sosial nantinya. Sehingga dalam faktor sosial perlu adanya pembahasan mengenai keadilan sosial.
4) Pembangunan manusia seutuhnya
Alasan mengapa faktor sosial menjadi bagian dalam perencanaan pembangunan nasional adalah adanya fakta bahwa perencanaan sering gagal jika pertimbangan sosial tidak diperhitungkan.

f. Perencanaan partisipatif ialah perencanaan yang lahir dari hasil kesepakatan stakeholder yang berkaitan seprti pemerintah, LSM/swasta dan masyarakat. Perencanaan partisipatif menjadi sarana untuk memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap masyarakat yang berkaitan dengan program yang direncanakan. Sehingga masyarakat akan lebih merasa memiliki atas program-program yang direncanakan karena merasa diikut sertakan didalamnya.


REFERENSI

Korten,D.C.1988.PEMBANGUNAN BERDIMENSI KERAKYATAN.Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Simanjuntak.1981.Perubahan dan Perencanaan Sosial.Bandung: Tersito.
Soekanto, Soerjono.1983.Kamus Sosiologi. Jakarta Utara:PT Raja Grafindo Persada.
Soekanto,Soerjono.2003.Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.


Monday, November 21, 2016

SOSIOMETRI “Status Sosial Individu Dalam Masyarakat”

TUGAS 1
SOSIOMETRI
Status Sosial Individu Dalam Masyarakat”



Disusun Oleh :
1.      Susi Karyati                            (14510001)

Dosen Pengampu : Ratna Sosetya Wedajati, S.Psi

SEKOLAH TINGGI PEMBANGUNAN MASYARAKAT DESA “APMD” YOGYAKARTA
2016
A.    STATUS SOSIAL INDIVIDU DALAM MASYARAKAT
W. Stern dalam teori konvergensinya menyatakan bahwa pembawaan maupun lingkungan secara bersama-sama mempunyai peran dalam pembentukan atau perkembangan manusia. Karena manusia sebagai makhluk individual, maka dalam tindakan-tindakannya manusia kadang mengarah ke kepentingan pribadi. Namun, karena manusia juga makhluk sosial, dalam tindakan-tindakannya manusia juga sering mengarah ke kepentingan masyarakat. Seperti yang dikemukakan oleh Kunkel (lih. Bigot dkk., 1950), bahwa manusia itu mempunyai dorongan untuk mengabdi pada dirinya sendiri (ichaftigkeit) dan dorongan untuk mengabdi kepada masyarakat (sachlichkeit) secara bersama-sama, manusia merupakan kesatuan dari keduanya.
Antara individu dengan lingkungannya terdapat hubungan timbak balik, yaitu lingkungan berpengaruh pada individu, tetapi sebaliknya indivisu juga mempunyai pengaruh pada lingkungan. Bagaimana hubungan atau sikap individu terhadap lingkungan dapat:
1.      Individu menolak lingkungan,  bila tidak sesuai dengan keadaan lingkungan. Dalam keadaan ini, individu dapat memberikan bentuk pada lingkungan sesuai dengan apa yang diharapkan. Namun, ini merupakan hal yang tidak mudah dan salah satu faktor yang akan ikut menentukan berhasil tidaknya usaha itu adalah status atau posisi individu yang bersangkutan.  
2.       Individu menerima lingkungan, bila keadaan lingkungan sesuai atau cocok dengan keadaan individu.
3.      Individu bersikap netral atau statuskuo, bila individu tidak cocok dengan keadaan lingkungan, tetapi individu tidak pernah mengambil langkah  bagaimana sebaiknya. Dari segi pendidikan kemasyarakatan, sikap yang seperti ini sebenarnya tidak diharapkan, karena bagaimanapun individu dapat mengambil langkah-langkah bagaimana sebaiknya sekalipun mungkin hal tersebut tidak dapat memenuhi harapannya.

Sosiometri dapat membantu kita untuk melihat  bagaimana hubungan sosial atau hubungan berteman seseorang dalam kelompok dan juga bagaimana struktur hubungan dalam kelompok yang bersangkutan. Baik tidaknya orang berteman atau mengadakan hubungan sosial dapat dilihat dengan menggunakan sosiometri ini. Dengan demikian bantuan sosiometri cukup besar dalam mendapatkan data untuk mengetahui hubungan atau kontak sosial individu dalam kelompoknya. Baik tidaknya hubungan sosial seseorang sebenarnya dapat dilihat dari  beberapa segi, yaitu:
1.      Segi frekuensi hubungan
 Yaitu sering tidaknya seseorang melakukan hubungan sosial atau kontak sosial dengan orang lain. Makin sering seseorang melakukan kontak sosial dengan orang lain, dapat dikatakan bahwa orang itu memiliki hubungan yang baik dengan orang lain, begitu pula sebaliknya. Seseorang yang mengisolisir diri, orang tersebut kurang sekali dalam bergaulnya, kontak sosial frekuensinya rendah, hubungan sosial kurang baik. Tetapi sampai seberapa jauh frekuensi ini dapat dipastikan, inilah yang merupakan hal yang sulit untuk dapat duketahui dengan pasti. Di mana letak batas secara pasti antara frekuensi yang tinggi yang menunjukkan hubungan sosial yang baik, dengan yang rendah yang menunjukkan hubungan sosial yang tidak baik, akan sulit dipastikan secara tepat, secara objektif. Karena itu segi frekuensi hubungan sebagai ukuran atau kriteria untuk menentukan baik tidaknya hubungan sosial seseorang akan mengalami kesulitan.
2.      Segi intensitas hubungan
Yaitu mendalam tidaknya seseorang dalam mengadakan hubungan dalam kontak sosial. Intensitas hubungan ini juga sering disebut Sebagai intimitas hubungan. Makin mendalam atau makin intensif hubungan seseorang dengan orang lain, dapat dinyatakan bahwa orang yang bersangkutan makin baik dalam hubungan sosialnya, begitu pula sebaliknya. Teman yang intim berarti teman tersebut mempunyai hubungan yang mendalam, hubungan yang intensif, merupakan teman yang akrab dan teman yang lebih baik hubungannya bila dibandingkan dengan teman yang kurang intim. Namun, bila intensitas hubungan ini digunakan sebagai kriteria atau ukuran baik tidaknya hubungan sosial, orang akan menghadapi kesulitan karena seseorang tidak dapat menarik garis secara objektif dan tegas antara mana yang baik dan mana yang kurang baik.
3.      Segi popularitas hubungan 
Yaitu dalam arti banyak sedikitnya teman dalam hubungan sosial. Banyak sedikitnya teman dalam hubungan sosial dapat digunakan sebagai ukuran atau tolok ukur baik tidaknya seseorang dalam hubungan sosialnya. Makin banyak teman, dapat dikatakan bahwa orang yang bersangkutan makin baik dalam hubungan sosialnya, demikian sebaliknya. Faktor popularitas hubungan inilah yang digunakan sebagai dasar dari sosiometri. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam frekuensi hubungan dan intensitas hubungan sebagai ukuran untuk melihat baik tidaknya dalam hubungan sosial, dapat diatasi atau dijawab secara baik oleh sosiometri, yang menggunakan segi popularitas hubungan sebagai dasarnya.

Metode sosiometri ini umumnya digunakan dalam kelompok kecil (misal 10 s/d 100 orang), karena bila jumlah anggota dalam kelompok terlalu besar, orang akan mengalami kesilitan dalam analisisnya, khususnya analisis sosiogram. Untuk menganalisis, pada umumnya menggunakan kuesioner sosiometris, dan hasil kuesioner itu kemuadian diolah lebih lanjut hingga menghasilkan hasil sosiometri tersebut. Ada beberapa analisis dari sosiometri, yaitu :

a.       Analisis Matrik
Matrik merupakan tabel yang mengandung baris dan kolom yang berisi angka-angka. Dalam matrik, sosiometri bentuknya segiempat (square) n x n, n adalah jumlah individu dalam kelompok. Pembuatan matrik sosiometri biasanya mendahului penyusunan sosiogram. Dengan bertitik tolak dari responden yang menerima sejumlah pilihan maka penggambaran sosiogram dapat lebih mudah. Apa yang didapat dari kuesioner kemudian diolah lebih lanjut kedalam tabulasi dan dikalkulasikan. Hasil kalkulasi inilah yang kemudian dibuat hasil sosiometri menjadi sosiogram. Sosiogram dapat berbentuk grafis atau sirkuler.

b.      Analisis Sosiogram
Analis sosiogram marupakan analis yang menyuguhkan hasil sosiometri dengan suatu gambar yang mencerminkan bagaimana hubungan individu satu dengan individu lain. Dari matrik kemudian dituangkan kedalam gambar jaringan hubungan individu satu dengan yang lain. Dalam membuat sosiogram, ada dua cara atau sistem, yaitu sistem grafik dan sistem lingkaran. Hubungan sosial individu dalam suatu kelompok atau masyrakat membentuk susunan tertentu/ konfigurasi. Suatu sosiogram bisa jadi merupakan kumpulan beberapa jenis konfigurasi.


c.       Analisis Indeks
Analisa indeks bertujuan untuk menghitung berapa rasio yang berlaku bagi anggota kelompok atau sebuah kelompok dalam keseluruhannya. Berdasarkan indeks analisis maka dapat dihitung status pilihan ( choice status)  dan penolakan (rejection status) dari masing-masing kelompok.  Keduanya dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

CHOICE STATUS (x)           = jumlah pilihan yang diterima X : (n-1)
REJECTION STATUS (x)     = jumlah penolakan yang diberikan X : (n-1)

Keterangan : (n-1) = jumlah keseluruhan anggota kelompok -1

Menurut Mc Kinney indeks status sosial dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
                                   
= Jumlah pilihanX + Jumlah Penolakan X
(n-1)

Dalam sosiometri seorang peneliti juga mengharap bahwa tes sosiometri untuk menunjukan perbedaan dalam pilihan anggota kelompok sesuai dengan perubahan yang terjadi dalam struktur kelompok. Sehingga dalam sosiometri perlu digunakan test-retest untuk menguji reliability.
Lindzey mengemukakan sejumlah kesimpulan tentafif  diantaranya bahwa skor dalam tes sosiometri jika ditinjau dalam waktu yang lebih lama menunjukan konsistensi yang besar; reliability ternyata lebih besar pada orang dewasa daripada anak-anak. Menurutnya penemuan ini agak ganjil sebab dapat disebabkan juga olehstabilitas yang lebih besar pada orang atau daya ingat yang lebih besar dari orang dewasa.
Pilihan kedua dan seterusnya ternyata lebih banyak berubah dari pada pilihan pertama. Moreno melaporkan bahwa 8% perubahan dalam pilihan pertama dan 18% perubahan pada pilihan kedua dalam waktu 3 bulan setelah tes pertama.
Tes sosiometri dinilai hanya sebagai pengukur perilaku pilihan verbal sehingga face validity untuk mengetahui validitynya. Walau pun demikian kemungkinan bahwa responden tidak memberi jawaban yang sesuai dengan pemikirannya akan tetap ada. Maka dari itu para ahli sosiometri menegaskan pada responden bahwa pilihan sosial mereka akan dipakai untuk mengstruktur kembali kelompoknya.

B.     CONTOH MENGETAHUI HUBUNGAN DAN NILAI STATUS SOSIAL INDIVIDU DALAM MASYARAKAT.
Misalnya dalam kelompok yang terdiri dari 10 orang dan menggunakan pertanyaan atau kuesioner sosiometri yang berbentuk  “ siapakah diantara teman-teman anda yang anda pilih sebagai teman dalam kelompok mengerjakan tugas? Dan  siapakah diantara teman-teman anda yang tidak anda pilih sebagai teman dalam kelompok mengerjakan tugas? Nama dari responden  yang memilih dituliskan pada kolom vertical dan yang dipilih dalam kolom horizontal. Intensitas dari pilihan yaitu pilihan pertama kedua ketiga, dst. Sedangkan penolakan sosial dapat disebutkan dalam tanda khusus.
Dalam penelitian terhadap kelompok ini bahwa responden H adalah paling popular dengan mendapat 6 pilihan dari A,B,E,F,G,I.  C mendapat 5 pilihan dari A,B,F,G,H.  J mendapat  2 penolakan dari D & G dan tidak dipilih sama sekali, A dan I tidak dipilih sama sekali. B mendapat 3 pilihan dari C, D, dan H. D mendapat 1 pilihan dari I. E mendapat 1 pilihan dari D. F mendapat 3 pilihan dari C, E,J. G mendapat 1 pilihan dari J.
MATRIK
Tabel 1


A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
A


1




2


B


1




2


C

1



2




D

1


2




-
E





2

1


F


2




1


G


2




1

-
H

1
2







I



2



1


J





1
2



0
3
5
1
1
3
1
6
0
2


Contoh Sosiogram dalam grafik berdasarkan data Tabel 1.




Contoh sosiogram pada gambar diatas terdiri dari beberapa konfigurasi yaitu :
·         konfigurasi star  : responden H sebagai star yang menerima sejumlah besar pilihan.
·         Konfigurasi   Mutual pair : antara B                C, antara C                 H, antar          C          F dimana adanya pilihan timbale balik diantara anggota kelompok.
·         Konfigurasi Neglectee : D disifatkan sebagai neglectee karena memilih namun tidak sama sekali dipilih dalam preferensi apa pun juga.
·         Konfigurasi Rejectee : K merupakan responden rejectee yang menerima pilihan negative.
·         Konfigurasi chain : Kelompok B,C,H merupakan kelompok chain dimana B memilih C, C memilih H, H memilih B



Contoh Analisis Indeks status sosial H dan J
Cs H = jumlah pilihan yang diterima X : (n-1)
            = 6 : (10-1)
            = 6 :9 = 0,66
Semakin tinggi nilai Cs H maka semakin kuat intensitas hubungan H dalam kelompoknya.

Rs J     = jumlah penolakan yang diberikan X : (n-1)
            = 2: (10-1)
            = 2 :9 = 0,22
Semakin tinggi nilai Rs J maka semakin lemah intensitas hubungan J  dalam kelompoknya.






REFERENSI
Ratna Sosetya Wedajati, 2004, Modul Sosiometri, Yogyakarta
Monika Devita, 2012, Karya Ilmiah Psikologi Sosial Sebagai Pengantar, http://www.academia.edu/9328726/Psikologi_Sosial_Sebuah_Pengantar, diakses 15 November 2016