Thursday, February 28, 2019

PRINSIP-PRINSIP JURNALISTIK

Dalam jurnalistik untuk mencapai tujuan yang diharapkan memerlukan prinsip-prinsip yang mendasari keseluruhan jurnalistik prinsip-prinsip jurnalistik antara lain meliputi :
KecepatanJurnalistik menganut prinsip kecepatan. Ekcepatan yang dimaksud adalah informasi dapat segera diterima oleh wartawan dan cepat disebarluaskan melalui media massa. Kecepatan wartawan untuk meliput suatu peristiwa atau memperoleh berita sangat dipengaruhi oleh kemampuan wartawan itu sendiri. Kemampuan yang dimiliki ileh wartawan diperoleh mealalui pengetahuan serta pengalaman yang dimiliki serta pengalaman yang dimiliki oleh wartawan itu.
Ketepatan, Ketepatan suatu media massa dalam menyajikan berita akan menarik orang untuk membaca meria tersebut. Ketepatan dalam menyajikan berita ini dipengaruhi oleh kerja sama yang baik antara manajemen redaksional, manajemen bisnis, dan manajemen percetakan. Kelemahan salah satu dari ketiga bagian ini tentu akan mempengaruhi ketepatan media massa untuk menyajikan berita.
Kompetensi, Kompetensi diartikan sebagai kemampuan orang dalam menjalankan tugasnya. Kemampuan orang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan yang dimiliki dan juga pengalaman. Perlunya berbagai latar belakang disiplin ilmu baik sosial, ekonomi, politik, hukum dan lain-lain. Dengan berbagai masa disiplin ilmu akan membantu dalam menganalisa permasalahan yang sangat kompleks yang ada di masyarakat. Semakin mempunyai banyak pengalaman serta latar belakang pengetahuan yang dimiliki, menjadikan orang tersebut semakin kompeten tugasnya.
Penekanan, Penekanan dii sisni diartikan sebagai masalah pokok yang ingin disajikan dan diulas dalam media massa. Masing-masing media dapat memberikan penekanan masing-masing sesuai ciri khasnya. Apakah suatu media akan menekankan beritanya soal sosial, ekonomi atau yang lainnya. Penekanan informasi yang disampaikan itu akan membuat orang mencari khasnya sendiri-sendiri.
Loyalitas, Loyalitas ini sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya suatu badan usaha. Loyalitas dalam penerbitan jurnalistik meliputi baik mulai dari wartawan yang meliput berita sampai dengan orang –orang yang menyebarkan hasil cetakan penerbitan media massa. Loyalitas seseorang dalam menjalankan tugasnya ini bisa dipengaruhi faktor dari dalam orang itu sendiri maupun dari luar yang berupa manajemen yang diterapkan atau diberlakukan dalam perusahaan itu. Manajemen yang baik akan mendorong seseorang untuk terus loyal terhadap tugas-tugas yang diembannya.
  
Kelayakan, Kelayakan menjadi salah satu prinsip dalam jurnalistik. Kelayakan disini menyangkut informasi yang diterima redaksi. Apakah suatu berita atau informasi layak dimuat untuk diberitakan kepada massa tergantung penilaian bagian redaksi. Mengingat media massa merupakan media yang dinikmati oleh khalayak umum maka kelayakan suatu informasi atau berita untuk dimuat berdasarkan standar umum yang menyangkut orang banyak bukan kepentingan orang tertentu. Kelayakan suatu berita untuk dimuat juga bisa dipandang dari segi moral seperti tidak melukai pribadi orang atau kelompok tertentu, tidak menghasut, bahasanya yang santun dan sebagainya.
Prioritas, Prioritas juga menjadi prinsip penting dalam jurnalistik. Prioritas sangat diperlukan dalam mencapai tujuan. Seringkali suatu perusahaan penerbitan pers yang mempunyau alat cetak sendiri disamping untuk mencetak media masa kadang juga untuk usaha lainnya. Pada situasi tertentu sering terjadi kesamaan waktu untuk naik cetak. Dalam situasi seperti itu maka perlu prioritas dalam usaha percetakan yaitu mendahulukan mencetak media massa sebagai tujuan dari perusahaan dan itu juga menyangkut orang banyak supaya berita dapat dinikmati banyak orang dengan cepat dan tepat. Otten Coffee




 


PENGERTIAN JURNALISTIK

Berdasarkan etimologi kata jurnalistik berasal dari Bahasa Belanda Journalistiek dan dari Bahasa Inggris  journalistic atau jornalisme, yang berasal dari kata journal yang berarti catatan harian. Sedangkan dalam Bahasa Latin diurnal yang berarti hari atau setiap hari. Dalam Bahasa Perancis du jour yang berarti hari. Sehingga jurnalistik dalam Bahasa Perancis berasal dari kata  journal yang artinya catatan harian.
Istilah jurnalistik juga diartikan sebagai suatu kegiatan yang merupakan suatu proses mengumpulkan, menyiapkan, menyebarkan berita melalui media massa. Kata jurnalisme sendiri pada awalnya digunakan untuk laporan yang dimuat dalam media cetak. Namun dalam perkembangannya dengan adanya penemuan radio dan televisi pada abad XX penggunaan istilah jurnalistik mencakup media elektronik.
Menurut Mac Dougalla journalisme adalah kegiatan menghimpun berita, mencari fakta, dan melaporkan peristiwa.
Menurut KBBI istilah jurnalistik berarti menyangkut kewartawanan dan persuratkabaran.


Tuesday, February 26, 2019

MENGAPA KITA SULIT MENULIS?


Bukan Perkara Mudah!
Menulis bagi orang kebanyakan mungkin bukan perkara mudah ini bukan soal yang bersangkutan tidak mau atau tidak mampu, mungkin karena belum memulai atau belum terbiasa saja. Bagi orang tertentu, menulisa menjadi sebuah keharusan, tradisi, pekerjaan, hobi, atau untuk keperluan tertentu.
Menulis merupakan kegiatan menyampaikan ide, gagasan, aspirasi, pendapat, tanggapan, argumentasi, atau informasi secara tertulis kepada orang lain. Dari sebuah tulisan, orang akan memperoleh informasi, inspirasi, pendapat, atau pengalaman dari si penulis. Menulis merupakan kompetensi dasar yang bisa dimiliki oleh siswa pendidikan dasar. Kita mengenal istilah “calistung”, kepanjangan dari membaca, menulis, dan berhitung. Pada dasarnya, ketiga hal itu memang dapat saling terkait, meski orang boleh saja emilih salah satu diantaranya untuk digeluti pada awalnya.
Siapa saja yang mau dan mampu boleh menulis. Tidak ada larangan bagi siapa saja yang menuangkan ide dan gagasannya secara tertulis. Baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Tulisan untuk diri sendiri kita mengenal buku agenda harian sebgai media. Kiranya tidak perlu ada aturn ini itu. Namun tulisan untuk orang lain apalagi yang dimuat di media publik di media publik atau media buku, tentu memiliki aturan atau persyaratan tertentu.
Selain kita bisa menulis melalui media pribagi (agenda dan atau blog) kita bisa menulis di media internal, media massa, menulis lomba tulisan atau media buku. Untuk media internal dimulai pers sekolah, pers kampus, media korporat, sampai media komunitas. Untuk media masa ada mmedia crtak, media elektonik, dan mullti media. Untuk media lomba tulis maksudnya adalah lomba kepenulisan bidang fakta, opini atau fiksi. Sedangkan  media buku, selain buku cetakan ada juga buku elektronik.
Banyak pilihan waktu yang bisa kita pakai  untuk kita menulis. Pertama, “sekarang” adalah waktu yang tepat untuk menulis. Artinya, kalau sudah ingin menulis maka segera menulis saja. Selanjutnya terserah kita boleh nanti, esok, minggu depan atau kapan-kapan, atau sesuai dengan momentum pribadi  atau news peg bulanan sepanjang tahun. Untuk news peg misalnya Hari Kartini, Hari Kemerdrkan RI, Hari Pahlawan, dan lainnya.
Pada dasarnya kita menulis untuk memberi sesuatu kepada orang lain  yang membaca. Sesuatu itu tentang informasi, aspirasi, pendapat, aargumentasi, solusi, dan sebagainya. Sebaiknya kita menulis juga dalam rangka memperoleh sesuatu atau nilai tertentu.
Menulis memang ada teorinya, strategi, aturan main, dan sebagainya. Bagi yang belum pernah menulis, bisa belajar kepada seseorang, lembagaatau contoh karya orang lain. Selebihnya lakukan saja, mulai saja, dan tetap semangat untuk berkarya. Soal tulisan kita baik atau tidak, dimuat atau tidak dimuat, menang atau kalah, tidak masalah yang penting terus berproses, terus berkarya, dan tetap semangat.
Dimulai Dari Diri Sendiri
Dalam era sekarang ini, siapa yang tidak tahu dan mengena produk budaya bernama buku? Siapa saja yang sudah tersentuh lembaga pendidikan, mulai dari pendidikan informal, formal dan nonformal pasti berhubungan dengan buku.
Bicara buku tentu tentang penulis, pembaca, peresensi, penerbit, percetakan, perpustakaan, toko buku, dan lain sebagainya. Bebebrapa kegiatan diselenggarakan untuk menumbuhkan minat baca dan minat menulis buku misalnya lomba mendongeng, lomba meresensi buku, menulis buku, lomba putra-pitri buku, dan sebagainya.
Dinamika penulisan, penerbitan, meresensi, membaca buku di Indonesia memang sudah berjalan. Perputaran uang dalam dunia perbukuan kita tentu ga tidak sedikit. Namunsejauh mana buku benar-benar telah menjadi bagian penting bagi setiap insang yang ingin maju.
Kalau ada kritik atau pendapat bahwa kita adalah bangsa nol buku artinya kemauan dan kemampuan membaca buku kita rendah. Barangkali tidak bisa terlalu disalahkan. Kalau kemauan membaca buku masih rendah, bagaimana dengan kemauan dan kemampuan untuk menulis buku kita? Tentu lebih memprikatinkan lagi.
Memang peresensian buku dan penulis buku selama ini sudah ada. Mungkin juga jumlahnya meningkat. Tapi apa salahnya kalau secara kuantitas dan kualitas ditingkatkan? Siapa yang boleh , dapat atau harus meningkatkan kualitas dan secara kuantitas dan kualitas kemampuan menulis buku seseorang? Hendaknya setiap orang bersedia menjadi guru bagi sesama, dan setiap rumah menjadi sekolah bagi siapa saja seperti yang disampaikan oleh Bapak Pendidikan kita Ki Hajar Dewantara.
Media yang pertama dan sederhana yang dapat dipakai untuk belajar menulis adalah buku agenda harian karena penulis, pembaca, editor tulisan adalah kita sendiri. Menulis dalam buku agenda harian memang cocok bagi calon penulis atau penulis pemula. Namun jangan heran kalau penulis senior atau siapa saja mau menulis dalam buku agenda harian. Buku ini bisa buku tulis biasa atau kalau perlu yang lebih sederhana lagi. Karena yang terpenting kita dapat menulis secara rutin  konsisten, nyaman dan aman. Menulis dalam buku agenda harian juga tidak harus banyak halaman. Boleh hanya satu alenia atau bahkan satu kalimat saja. Banyak yang bisa kita peroleh dari kebiasaan menulis di agenda harian  misal saja perasaan merasa lega, media belajar, media komunikasi, dan sebagainya.

Monday, February 25, 2019

Rahasia Sukses Membuat Berita Bagi Wartawan Pemula



Oleh : Y.B. Margantoro

Berbicara sukses adalah berbicara sebuah strategi, proses, dan hasil. Strategi adalah cara untuk mencapai suatu tujuan. Boleh dikata, tidak ada orang yang mau gagall atau tidak sukses, yang ada kebanyakan adalah gagal berencana atau tidak melakukan perencanaan dengan baik.
Proses adalah sebuah perjalann karya yang harus dijalani, suka atau tidak suka. Daya tahan seseorang untuk memperoleh hasil terletak pada proses ini. Tidak semua orang mau bersusah payah menjalani proses. Namun ada juga yang mau melakukan. Padahal, hasil yang baik atau maksimal, tidak mungkin instan.
Hasil adalah pencapaian yang diharapkan oleh orang atau organisasi dalam menjalani sebuah perbuatan atau pekerjaan. Hasil yang baik pada dasarnya adalah buah dari perencanaan yang baik.
Membuat berita adalah tugas utama wartawan, terutama wartawan yang organik di media publik. Berita adalah segala sesuatu yang menarik, dan berita yang paling menarik adalah berita yang dibaca/dilihat/didengar sebanyak-banyaknya orang.
Selain wartawan organik media, berita juga bisa dibuat oleh masyarakat umum khususnya organisasi atau lembaga yang permanen dan tidak permanen.
Sedangkan wartawan adalah orang yang bekerja disebuah lembaga pers, yang tugasnya mencari, mengolah, dan menyajikan informasi kepada publik melalui media. Media di sisni adalah media cetak, media elektronik dan multi media. Mungkin masih ada lagi media komunitas, media korporat, dan sebagainya.
Wartawan pemula?
Setiap orang (wartawan) tentu saja pernah menjadi pemula. Dalam Kewartawanaan memang ada istilah wartawan pemula, wartawan senior, dan sebagainya. Tapi yang penting adalah apakah wartawan tetap mau belajar dan berbagi untuk sesama.
Strategi Pertama:
Wartawan membaca koran harian, mendengarkan radio, melihat televisi atau informasi lain. Tujuannya untuk memperoleh ide dasar bagi bahan penulisan beritanya. Ide atau gagasan berita itu penting dimiliki.Selanjutnya, wartawan melakukan koordinasi dengan direktur peliputan untuk penugasan di lapangan. Fokus dan hal-hal apa yang harus dicari dan dikembangkan di lapangan.
Strategi Kedua:
Untuk membuat berita wartawan harus mau terjun ke lapangan. Hampir semua isian media (terutama media cetak) adalah hasil reportase wartawan. Reportase di sini maksudnya adalah kerja lapangan atau kerja melaporkan dan bukan bentuk tulisan fakta (ada berita langsung, berita kisah, dan berita laporan).
Di lapangan kemampuan jurnalistik dan inderawi wartawan diuji. Sejauh mana dia mampu mengakses fakta dan data yang memadai untuk dijadikan tulisan beritanya. Selainmengamati kondisi lapangan, awartawan juga dituntut mampu melakukan wawancara untuk konfirmasi berita atau meminta tanggapan atas sebuah peristiwa.
Strategi Ketiga :
Wartawan melihat ada momentum atau news peg (cantelan berita) apa yang dapat dimanfaatkan untuk membuat berita pada hari itu. Misalnya, hari ini ada peristiwa teragenda apa yang dapat diliput. Atau ada news peg apa, misalnya menyongsoong hari-hari tertentu seperti Hari Buruh Internasional,   Hari pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasional, dan sebagainya. Tentu saja, wartawan mencari dan mengolah informasi itu tidak tepat pada waktunya. Beberapa hari sebelumnya, wartawan sudah mempersiapkan fakta dan data, dan beritanya dimuat pada hari H momentum itu.
Strategi Keempat :
Banyak peristiwa yang terjadi di luar kota, luar daerah, atau bahkan di luar negeri yang dapat dilokalkan ditempat wartawan itu berada. Misalkan kasus flu babi yang awalnya dari luar negeri, kerena menjadi kasus global dan sudah terjadi korban di dalam negeri kita, maka kasus tu bisa dikembangkan di sini. Dilakukan pengamatan di lapangan dan wawancara dengan naeasumber berkompeten di sini. Dalam jurnalisme, pengembangan berita yang dianggap menarik dan penting diketahui masyarakat banyak adalah follow up news.
Strategi Kelima :
Bila ada berita yang memiliki kelayakan atau news value  yang tiggi dan secara marketing diharapkan dapat mendongkrak eceran koran di lapangan, maka berita itu bisa diblow up. Tulisan jenis ini namanya blow up news. Dalam blow uo news, dimungkinkan disajikan tlisan utama (vertikal), pendamping (horizontal), dan arahan atau petunjuk (intruksional).
Dalam metode ini pula, pada satu tampilan di halaman koran sama atau di halaman lain, dapat disajikan tulisan berita langsung, berita kisah, dan berita laporan secara serentak. Untuk menyajikan pola ini memang membutuhkan personel wartawan yang cukup dan berkemampuan, koordinasi lapangan dan kantor redaksi yang baik serta sarana prasarana pendukung yang memadai.
Strategi Keenam :
Dalam jurnalisme dikenal istilah (tulisan) talking news, yakni berita yang merupakan hasil wawancara khusus dengan narasumber tentang topik tertentu. Jenis tulisan berita ini bisa berasal dari sebuah pertemuan jumpa pers, media gathering, media visit atau wawancara khusus.
Strategi Ketujuh :
Ada kegiatan atau peristiwa yang patut atau perlu diberitakan sebelumnya, namanya adalah preview news. Artinya berita ini menginformasikan akan dilaksanakan suat kegiatan tertentu oleh lembaga tertentu. Tujuan pemberitaan jenis ini addalah agar publik megetahui kegiatan tersebut dan diharapkan dapat menghadiri atau berpartisipasi.
Strategi Kedelapan :
Ada kegiatan yang patut diberitakan sesudah peristiwa dimaksud terjadi. Jenis tulisan ini adalah review news.
Strategi Kesembilan :
Organisasi permanen atau tidak permanen pada dasarnya dapat mengirimkan berita ke media masa dengan syarat dan ketentuan berlaku. Berita ini sifatnya layanan publik dari media. Artinya tidak perlu membayar. Namun pemuatannya harus memenuhi syarat kelayakan berita dan tersedia space ini media bersangkutan.
Strategi Kesepuluh :
Berita harus faktual atau obyektif, bermakna dann mempertimbangkan dampak sosial serta dampak teknologinya. Berita memiliki nilai-nilai seperti konflik, kemajuan dan bencana, konsekuensi, kemasyuran dan terkemuka, saat yang tepat dan kedekatan, keganjilan, sentuhan manusiawi , seks, dan aneka lainnya. Sedangkan sumber berita  yaitu sumber primer (fakta /data di lapangan dan wawancara), sember sekunder (riset pustaka), dan riset foto. Prinsip dasar penulisan yaitu penugasan, pengumpuan, evaluasi, penulisan dan penyuntingan.
Strategi Kesebelas :
Usahakan agar kalimat rata-rata pendek., pilih yang sederhana dari pada yang kompleks, pilih kata-kata yang lazim, hindari kata-kata yang tidak perlu, beri kekuatan pada kata kerja, tulislah sebagaimana anda berbicara, gunakan istilah yang bisa digambarkan oleh pembaca, hubungkan dengan pengalaman membaca anda, gunakan sepenuhnya variasi, menulislah untuk menyatakan dan bukan mempengaruhi.
Strategi Keduabelas :
Wartawan harus memiliki sikap dan watak way of life,  tujuan mulia, tidak arogan, akurat, keceapatan, jujur terhadap kebenaran. Bekal kerja wartawan adalah memiliki naluri berita, observasi, keingintahuan, mengenal berita, menangani berita, ungkapan yang jelas, kepribadian yang luwes, pendekatan yang sesuai, kecepatan, kecerdikan, teguh pada janji, daya ingat yang tajam, buku catatan, referensi, kamus, surat kabar/majalah/internet/tv/radio, perbaikan demi kemajuan. Sedangkan syarat kerja wartawan adalah tahu yang menarik, selalu ingin tahu, mampu observasi.



Monday, December 17, 2018

MOTIVASI CINTA

" Saat Harus Melepaskan dan Merelakan"

Lama-lama kita akan malas jika terlalu sering chat hanya sekedar dibaca. Bahkan semua tentang kita diacuhkan begitu saja. Buat apa bertahan jika hanya disia-siakan? Lebih baik sendiri tanpa penantian dari pada tiap waktu harus menelan kekecewaan. Sabar menanti tapi yang dinanti hatinya mati. Jangankan mau bersimpati ingat janji-janji saja setengah mati. Bilangnya masih cinta tapi buktinya tidak ada. Bilang rindu tapi komunikasi saja kita yang harus mulai dulu. Bertahan itu tidak mudah tapi nyatanya kita sudah mencoba. Sabar juga tak gampang tapi kita coba, meski mungkin masih kurang. Jangan salahkan kita yang dulu cinta dan sekarang meninggalkan, jika dirimulah yang sebenarnya tak bisa mempertahankan. Jangan sesali jika kita pergi karena yang terpenting kamu harus bisa intropeksi diri. Karena terkadang sebenarnya kita pergi bukan karena tak cinta lagi tapi karena rasa kecewa yang tak pernah kamu mengerti.

Monday, November 12, 2018

KEMISKINAN


Kemiskinan merupakan salah satu problem yang sering dialami oleh suatu negara. Kemiskinan dapat terjadi karena keterbatasan faktor-faktor geografis (daerahnya terpencil atau terisolasi, dan terbatasanya prasarana dan sarana), ekologi (keadaan sumber daya tanah/lahandan air serta cuaca yang tidak mendukung), teknologi (kesederhanaan sistem teknologi untuk berproduksi), dan pertumbuhan penduduk yang tinggi dibandingkan dengan tingkat penghasilannya.
Menurut Hall dan Midgley kemiskinan adalah kondisi deprivasi materi dan sosial yang menyebabkan individu hidup di bawah standar kehidupan yang layak, atau kondisi individu yang mengalami deprivasi relatif dibandingkan dengan individu yang lainnya dalam masyarakat.
Menurut Soekanto kemiskinan adalah suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut.
Kemiskinan secara umum adalah kondisi yang ditandai oleh serba kekurangan baik dalam pendidikan, kesehatan yang buruk, dan kekurangan transportasi yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Adapun ciri-ciri kemiskinan diantaranya:
1.      Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.
2.      Ketiadaan jaminan masa depan (karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga).
3.      Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massal.
4.      Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (pangan, sandang dan papan).
5.      Ketiadaan akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan,pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi).
6.      Ketidakterlibatan dalam kegiatan sosial masyarakat.
7.      Ketiadaan  akses  terhadap lapangan  kerja  dan  mata  pencaharian  yang berkesinambungan.
8.  Ketidakmampuan dan ketidakberuntungan sosial (anak terlantar, wanita korban tindak kekerasan rumah tangga, janda miskin, kelompok marjinal dan terpencil).
9.      Rendahnya kualitas sumberdaya manusia dan keterbatasan sumber alam.

Banyak perspektif yang yang menjelaskan bentuk-bentuk kemiskinan. Menurut Jamasy (2004) terdapat empat bentuk kemiskinan yang mana setiap bentuk memiliki arti tersendiri. Keempat bentuk tersebut adalah kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif yang melihat kemiskinan dari segi pendapatan, sementara kemiskinan struktural dan kemiskinan kultural yang melihat kemiskinan dari segi penyebabnya.
Kemiskinan absolut terjadi apabila tingkat pendapatannya dibawah garis kemiskinan atau sejumlah pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan minimun, antara lain kebutuhan pangan, sandang, kesehatan, perumahan dan pendidikan yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas agar bisa hidup dan bekerja. Kemiskinan jenis ini mengacu pada satu  standard yang konsisten, tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat /negara. Sebuah contoh dari pengukuran absolut adalah persentase dari penduduk yang makan dibawah jumlah yang cukup menopang kebutuhan tubuh manusia (kira kira 2000-2500 kalori per hari untuk laki laki dewasa). Bank Dunia mendefinisikan Kemiskinan absolut sebagai hidup dengan  pendapatan dibawah USD $1/hari, dan Kemiskinan menengah untuk pendapatan dibawah $2 per hari. Dengan  batasan ini maka diperkiraan pada 2001 terdapat 1,1 miliar orang didunia mengkonsumsi kurang dari $1/hari, dan 2,7 miliar  orang didunia mengkonsumsi kurang dari $2/hari.
2.      Kemiskinan relatif
Kemiskinan relatif adalah kondisi dimana pendapatannya berada pada posisi di atas garis kemiskinan, namun relatif lebih rendah dibanding pendapatan masyarakat sekitarnya. Meskipun kemiskinan yang paling parah terdapat di negara bekembang, ada bukti tentang  kehadiran kemiskinan di setiap region. Di negara-negara maju, kondisi ini menghadirkan kaum tuna wisma yang berkelana ke sana kemari dan daerah pinggiran kota.
3.      Kemiskinan struktural
Kemiskinan struktural ialah kondisi atau situasi miskin karena pengaruh kebijakan pembangunan yang belum menjangkau seluruh masyarakat sehingga menyebabkan ketimpangan pendapatan. Kemiskinan struktural muncul karena ketidakmampuan sistem dan struktur sosial dalam menyediakan kesempatan-kesempatan yang memungkinkan si miskin dapat bekerja. Struktur sosial tersebut tidak mampu menghubungkan masyarakat dengan sumber-sumber yang tersedia, baik yang disediakan oleh alam, pemerintah maupun masyarakat yang ada disekitarnya. Mereka yang tergolong dalam kelompok ini adalah buruh tani, pemulung, penggali pasir dan mereka yang tidak terpelajar dan tidak terlatih. Pihak yang berperan besar dari terciptanya kemiskinan struktural adalah pemerintah. Sebab, pemerintah yang memiliki kekuasaan dan kebijakan cenderung membiarkan masyarakat dalam kondisi miskin, tidak mengeluarkan kebijakan yang pro masyarakat miskin, Kalau pun ada lebih berorientasi pada proyek, bukan pada pembangunan kesejahteraan, sehingga tidak ada masyarakat miskin yang ‘naik kelas’. Artinya jika pada awalanya sebagai buruh, nelayan, pemulung, maka selamanya menjadi buruh nelayan dan pemulung.
Pada tahun 1970-an dan 1980-an para intelektual mengangkat  isu kemiskinan struktural ini. Kemiskinan ini timbul, karena ada hubungan  sosial ekonomi yang membuat kelompok orang tereksklusi  dari posisi ekonomi yang lebih baik.  Penyebab eksklusi adalah  ketergantungan ekonomi pada negara industri maju, struktur perekonomian  nasional jatuh pada segelintir orang  (kolusi penguasa dan pengusaha) serta politik dan hubungan sosial  yang tidak demokratis.
Kemiskinan struktural hadir dan muncul bukan karena takdir, bukan karena kemalasan, atau  bukan karena karena nasib. Kemiskinan jenis ini muncul dari suatu usaha pemiskinan. Suatu usaha untuk menciptakan jurang semakin lebar saja antara yang kaya dengan yang miskin. Kemiskinan struktural  adalah kemiskinan yang timbul dari adanya korelasi struktur yang timpang, yang timbul dari tiadanya suatu hubungan yang simetris dan sebangun yang menempatkan manusia sebagai obyek. Kemiskinan struktural timbul karena adanya hegemoni dan justru karena adanya kebijakan negara dan pemerintah atau orang-orang yang berkuasa, sehingga justru orang yang termarjinalkan semakin termarjinalkan saja.
Namun dalam beberapa dasawarsa belakangan ini terjadi kecenderungan fenomena yang berbalik.  Beberapa negara berkembang yang  penduduknya mengalami kemiskinan struktural, ternyata mampu bangkit dan berkembang untuk merebut pasar global (Rohman, 2010). Pertanyaanya, apakah hal itu pertanda  kemiskinan karena faktor struktural tidak ada lagi, dan yang ada faktor kultural serta kurangnya akses pada kebutuhan dasar? Hal ini secara empiris perlu mendapat telaah yang lebih mendalam .
4.      Kemiskinan kultural
Kemiskinan kultural mengacu pada persoalan sikap seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh faktor budaya. Sikap budaya itu, seperti tidak mau berusaha untuk memperbaiki tingkat kehidupan, malas, pemboros, tidak kreatif, meskipun ada usaha dari pihak luar untuk membantunya. Sedangkan, kebudayaan kemiskinan, merupakan kemiskinan yang muncul sebagai akibat adanya nilai-nilai atau kebudayaan yang dianut oleh orang-orang miskin, seperti malas, mudah menyerah pada nasib, kurang memiliki etos kerja dan sebagainya. Ciri dari kebudayaan kemiskinan ini adalah masyarakat enggan mengintegrasikan dirinya dalam lembaga-lembaga utama, sikap apatis, curiga, terdiskriminasi oleh masyarakat luas. Dalam komunitas lokal ditemui ada rumah yang bobrok, penuh sesak dan bergerombol. Ditingkat keluarga, masa kanak-kanak cenderung singkat, cepat dewasa, cepat menikah. Pada individu mereka ada perasaan tidak berharga, tidak berdaya dan rendah diri akut.
Pandangan lain tentang budaya miskin merupakan efek domino dari belenggu kemiskinan struktural yang menghinggap masyarakat terlalu lama. Keadaan seperti itu membuat masyarakat apatis, pasrah, berpandangan jika sesuatu yang terjadi adalah takdir. Dalam konteks keagamaan disebut dengan paham jabariah. Contoh kemiskinan ini ada pada masyarakat pedesaan, komunitas kepercayaan atau agama, dan kalangan marginal lainnya
Sumber:


Sunday, November 4, 2018

EKONOMI KERAKYATAN DAN GLOBALISASI

Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi nasional yang disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan, di mana produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua, di bawah pimpinan atau pengendalian anggota-anggota masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengendalikan jalannya roda perekonomian.
Globalisasi sendiri merupakan suatu proses penyatuan pasar dunia ke dalam pasar domestik. Dalam globalisasi sering kita kenal perdangangan bebas dan perdagangan internasional. Perdagangan bebas sangat berbeda bila dibandingkan dengan perdagangan internasional. Perdagangan internasional sering dibatasi oleh berbagai pajak negara, biaya tambahan yang diterapkan pada barang ekspor impor, dan juga regulasi non tarif pada barang impor. Secara teori, semua hambatan-hambatan inilah yang ditolak oleh perdagangan bebas. Namun dalam kenyataannya, perjanjian-perjanjian perdagangan yang didukung oleh penganut perdagangan bebas ini justru sebenarnya menciptakan hambatan baru kepada terciptanya pasar bebas. Perjanjian-perjanjian tersebut sering dikritik karena melindungi kepentingan perusahaan-perusahaan besar.
Dampak dari globalisasi bagi perekonomian Indonesia :
1.      Aliran produk asing ke dalam negeri dapat merusak sektor ekonomi dan produk yang dihasilkan oleh produsen dalam negeri.
2.      Produsen akan beralih profesi menjadi importir atau hanya penyalur melihat harga produk asing yang masuk ke dalam negeri. Hal ini akan mengakibatkan bergantungnya Indonesia pada produk asing.
3.      Produk Indonesia berdaya saing rendah di pasar Internasional karena tidak mendapat dukungan di pasar domestik.
4.      Peranan produksi nasional terutama produsen kecil akan terpangkas dan tergantikan oleh impor.
Dampak positifnya:
1.      Peluang untuk menarik investasi ke Indonesia menjadi semakin terbuka.
2.      Peningkatan volume perdagangan.
Jika suatu negara ingin selamat dalam persaingan global yang makin kompetitif maka peningkatan daya saing ekonomi nasional wajib dibutuhkan dan tak mungkin ditawar-tawar lagi. Sedangkan setiap negara siap atau tidak harus ikut dalam globalisasi karena merupakan bagian didalamnya. Ketidak ikut sertaan suatu negara untuk bersaing dalam globalisasi dapat merugikan ekonomi nasional/ melemahkan ketahanan nasional.
Penerapan sistem ekonomi kerakyatan yaitu yang berdemokratis dan benar-benar sesuai nilai bangsa Indonesia (sistem ekonomi / aturan main yang dibuat sendiri) tentu memberi peluang bahwa aturan mainitu lebih sesuai dan tepat bagi bangsa Indonesia dalam rangka mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia (Mubyarto, 2000 : 245).
Mewujudkan ketahanan ekonomi yang kuat dan tangguh pada era globalisasi ini sangat tergantung ketahanan dari ekonomi rakyat. Artinya bahwa ketahanan ekonomi nasional yang kuat dan tangguh justru mengandalkan dari ketahanan ekonomi rakyat.  Jika pemberdayaan ekonomi rakyat berhasil , ketahanan ekonomi nasional akan lebih tangguh dan kuat di masa yang akan datang untuk menghadapi globalisasi.